STOCKWATCH.ID ( JAKARTA – PT Nirmala Taruna (NITA) mencatat kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025. Perseroan berhasil membukukan laba neto tahun berjalan sebesar Rp286,90 miliar, berbalik dari rugi neto Rp205,76 miliar pada 2024.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp287,70 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Perseroan masih mencatat rugi sebesar Rp205,63 miliar. Dengan demikian, kinerja Perseroan berbalik positif secara signifikan.
Pendapatan neto Grup meningkat 53,37% menjadi Rp915,44 miliar pada 2025, dibandingkan Rp596,89 miliar pada 2024. Kontributor terbesar berasal dari pendapatan komisi sebesar Rp383,85 miliar.
Selain itu, pendapatan kontrak dengan pelanggan tercatat Rp203,96 miliar. Kegiatan perantara pedagang efek menyumbang Rp195,90 miliar, sedangkan pendapatan dari penjaminan emisi efek mencapai Rp84,46 miliar.
Seiring pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan naik menjadi Rp263,15 miliar dari Rp236,08 miliar. Beban pemasaran meningkat menjadi Rp86,62 miliar, sementara beban umum dan administrasi bertambah menjadi Rp364,67 miliar dari Rp235,89 miliar.
Grup juga mencatat beban bunga sebesar Rp64,97 miliar. Meski demikian, Perseroan mampu membukukan laba usaha sebesar Rp309,13 miliar, berbalik dari rugi usaha Rp219,52 miliar pada tahun sebelumnya.
Presiden Direktur PT Nirmala Taruna, Robby Yulianto, menegaskan komitmen manajemen terhadap transparansi dan akuntabilitas laporan keuangan.
“Kami bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian PT Nirmala Taruna dan Entitas Anak,” tulis Robby dalam surat pernyataan resmi, Kamis (14/5/2026).
Dari sisi neraca, total aset Grup meningkat 34% menjadi Rp12,12 triliun per 31 Desember 2025, dari Rp9,05 triliun pada akhir 2024. Aset lancar mendominasi dengan nilai Rp11,44 triliun, termasuk aset kripto sebesar Rp3,06 triliun.
Total liabilitas meningkat menjadi Rp8,39 triliun dari Rp5,62 triliun, terutama akibat kenaikan liabilitas jangka pendek menjadi Rp6,78 triliun. Sementara itu, total ekuitas tumbuh menjadi Rp3,74 triliun, dibandingkan Rp3,43 triliun pada 2024.
Di sisi lain, entitas anak PT Tumbuh Bersama Nano (Nanovest) masih menghadapi tantangan regulasi. Otoritas Jasa Keuangan menyatakan kegiatan Nanovest sebagai aplikasi jual beli saham asing belum sesuai dengan Undang-Undang Pasar Modal karena belum memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Efek.
Manajemen saat ini fokus memenuhi persyaratan perizinan tersebut. Selain itu, Grup melakukan ekspansi melalui akuisisi 98% saham PT Kebayoran Parama Propertindo pada April 2025. Transaksi ini menghasilkan goodwill sebesar Rp168,19 miliar.
