Trump Tiba di Beijing, Bursa Asia Bergerak Variatif di Tengah Ancaman Mogok Samsung

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham Asia-Pasifik ditutup variatif pada perdagangan Kamis (14/5/2026). Investor mencermati pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai arah hubungan kedua negara serta prospek perdagangan global.

Mengutip CNBC International, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,98% ke level 62.654,05. Indeks Topix melemah 1,03% ke posisi 3.879,27.

Sebaliknya, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 1,75% ke level 7.981,41, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq naik 1,2% menjadi 1.191,09.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 menguat tipis 0,12% ke level 8.640,7. Sementara itu, indeks CSI 300 China terkoreksi 1,68% ke posisi 4.914,60. Indeks Hang Seng Hong Kong bergerak relatif datar menjelang penutupan perdagangan.

Penguatan signifikan di bursa Korea Selatan didorong lonjakan saham Samsung Electronics yang naik hingga 5% dan mencetak rekor tertinggi baru. Kenaikan ini terjadi meski perusahaan tengah menghadapi ancaman pemogokan buruh terbesar dalam sejarahnya.

Serikat pekerja Samsung berencana menggelar aksi mogok selama 18 hari mulai 21 Mei 2026.

Menteri Keuangan Korea Selatan, Koo Yun-cheol, memperingatkan bahwa aksi mogok tersebut dapat mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

“Potensi pemogokan oleh pekerja Samsung dapat menjadi ancaman besar bagi pertumbuhan ekonomi negara, ekspor, dan pasar keuangan,” ujar Koo Yun-cheol dalam keterangannya, Kamis.

Perhatian pasar global juga tertuju pada kunjungan Donald Trump ke Beijing. Dalam lawatan tersebut, Trump didampingi sejumlah tokoh bisnis terkemuka, termasuk CEO Tesla, Inc. Elon Musk dan CEO NVIDIA Corporation Jensen Huang.

Analis Goldman Sachs memperkirakan pembicaraan Trump dan Xi akan berfokus pada isu tarif perdagangan dan pengendalian ekspor teknologi.

Menurut Goldman Sachs, pertemuan tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi aset-aset China, meski tidak diperkirakan membawa perubahan besar dalam hubungan bilateral kedua negara.

“Meskipun tidak mungkin menjadi pengubah permainan bagi hubungan AS-Tiongkok, kami menilai pertemuan ini dapat menjadi katalis taktis bagi penguatan yuan dan saham-saham China,” tulis analis Goldman Sachs.

Goldman Sachs tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk saham-saham China daratan (A-shares). Sikap positif ini didasarkan pada daya saing ekspor China yang kuat dan valuasi yuan yang dinilai masih relatif murah.

Sementara itu, kontrak berjangka di Wall Street menunjukkan pergerakan stabil. Futures S&P 500 naik 0,1%, sedangkan futures Nasdaq 100 menguat 0,4%.

Pada perdagangan sebelumnya, indeks-indeks utama di Wall Street kembali mencetak rekor tertinggi meskipun data inflasi AS tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Xi Jinping Sepakat Beli 200 Jet Boeing, Trump Ungkap Hasil Pertemuan

STOCKWATCH.ID (BEIJING) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump...

Xi Jinping di Hadapan Elon Musk dan Jensen Huang: Pintu China Akan Terbuka Lebih Lebar

STOCKWATCH.ID (BEIJING) – Presiden Xi Jinping memberikan jaminan kepada...

Futures AS Stabil Usai Dow Jones Kembali Tembus Level 50.000

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru