STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Angin segar berhembus dari pasar energi global. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan kesepakatan damai dengan Iran sudah hampir rampung. Langkah ini bertujuan mengakhiri konflik yang selama ini mencekik pasar energi dunia.
Mengutip CNBC International, dalam unggahannya di media sosial, Trump mengungkapkan kesepakatan ini mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur ini sangat krusial bagi perdagangan energi internasional.
“Kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan. Kini tinggal menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lainnya,” tulis Trump, dikutip Minggu (24/5/2026).
Trump telah berkomunikasi dengan sejumlah pemimpin negara. Mulai dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, Bahrain, hingga Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Fokus pembicaraan mereka adalah mematangkan syarat perdamaian dengan Iran.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, turut mengonfirmasi kabar positif ini saat berkunjung ke New Delhi, India. Rubio menyebut ada kemajuan signifikan dalam 48 jam terakhir.
“Saya pikir mungkin dalam beberapa jam ke depan dunia akan mendapat kabar baik,” ujar Rubio.
Namun, Rubio tetap memberikan catatan waspada. Ia menegaskan kemajuan ini belum bersifat final. Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Selain itu, Selat Hormuz harus terbuka bagi lalu lintas laut global tanpa biaya tol dari Teheran.
“Kami telah membuat beberapa kemajuan selama 48 jam terakhir bekerja sama dengan mitra kami di kawasan Teluk dalam sebuah kerangka kerja yang pada akhirnya – jika berhasil – tidak hanya akan membuat selat terbuka sepenuhnya… dan mengatasi beberapa hal utama yang mendasari ambisi senjata nuklir Iran di masa lalu,” terang Rubio.
Konflik ini sebelumnya telah memicu krisis energi terparah dalam beberapa dekade. Kondisi tersebut melambungkan inflasi di AS dan memaksa bank sentral The Fed menaikkan suku bunga.
Gencatan senjata yang rapuh sebenarnya sudah terjadi sejak 8 April 2026. Namun, bentrokan kecil masih sering terjadi karena perebutan kendali di Selat Hormuz.
Meski ada optimisme, beberapa hambatan masih membayangi. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut posisi kedua negara masih terasa “sangat jauh sekaligus sangat dekat”.
Teheran bersikeras mengelola Selat Hormuz sendiri. Mereka juga menunda pembicaraan nuklir hingga perang benar-benar berakhir.
Laporan dari kantor berita Tasnim menyebut draft perjanjian saat ini hanya terbatas pada upaya mengakhiri perang. Iran belum berkomitmen menyerahkan materi nuklirnya.
Di sisi lain, Trump menuntut Iran membongkar situs nuklir Natanz, Fordow, dan Isfahan yang sempat dibom AS dan Israel pada Juni tahun lalu.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyambut baik kabar ini. Melalui akun X miliknya, Von der Leyen menekankan pentingnya kesepakatan yang benar-benar menurunkan eskalasi konflik.
“Iran tidak boleh diizinkan mengembangkan senjata nuklir. Iran juga harus mengakhiri tindakan destabilisasi di kawasan tersebut,” tulisnya.
Jika berjalan lancar, kesepakatan tahap awal berupa nota kesepahaman (MoU) akan segera diumumkan. Setelah itu, pembicaraan yang lebih luas akan dilakukan dalam kurun waktu 30 hingga 60 hari.
Dukungan juga datang dari Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang menyatakan siap membantu proses implementasi kesepakatan demi perdamaian abadi di kawasan tersebut.

