STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Kacamatamoo menargetkan memiliki lebih dari 100 outlet hingga akhir 2026. Perusahaan juga memperkuat transformasi bisnisnya menjadi penyedia layanan penglihatan terintegrasi melalui pengembangan ekosistem vision care, kemitraan dengan Vio Optical Clinic, serta ekspansi ke sejumlah negara di Asia.
Founder Kacamatamoo, Michael Oktowinadi, mengatakan perusahaan saat ini telah memiliki 92 outlet yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Hingga akhir tahun, jumlah tersebut ditargetkan bertambah menjadi lebih dari 100 outlet, dengan fokus ekspansi di Pulau Jawa, terutama Jawa Timur.
“Sampai akhir tahun targetnya sih 100-an. 100 plus lah. Tergantung kondisi pasar juga kalau bagus, masih dapat lokasi yang oke kita akan buka terus,” ujar Michael di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Michael menjelaskan Kacamatamoo dirintis bersama adiknya pada 2019 sebagai bisnis optik berbasis online. Saat pandemi COVID-19, perusahaan hanya berjualan secara daring. Outlet pertama kemudian dibuka pada 2022 dan terus berkembang hingga mencapai 92 cabang.
Menurut Michael, ekspansi perusahaan didukung model kemitraan. Dari 92 outlet yang beroperasi, sekitar 35 outlet dimiliki sendiri, sedangkan sisanya merupakan milik mitra. Nilai investasi untuk satu outlet berkisar Rp1 miliar hingga Rp1,5 miliar, tergantung lokasi dan ukuran toko.
“Yang kita punya paling cuma kurang dari setengahnya, sisanya itu punya mitra semua,” kata Michael.
Perusahaan mencatat sekitar 15.000 transaksi setiap bulan atau ratusan ribu frame kacamata terjual setiap tahun. Produk Kacamatamoo menyasar segmen menengah hingga menengah bawah dengan kisaran harga Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per unit. Mayoritas gerai berada di ruko, bukan di pusat perbelanjaan.
Michael mengatakan sejak awal Kacamatamoo memanfaatkan kanal digital seperti TikTok, Shopee, dan Tokopedia. Strategi tersebut membuat perusahaan menikmati lonjakan penjualan selama pandemi.
“Kita yang pertama optik yang jualan di online dulu, yang ngerti TikTok duluan, yang nyobain Shopee sama Tokopedia duluan. Jadi itu yang bikin momentumnya dapat,” ujarnya.
Untuk memperluas layanan, Kacamatamoo telah menjalin kemitraan dengan Vio Optical Clinic. Melalui kerja sama tersebut, perusahaan mulai membangun ekosistem vision care yang tidak hanya menyediakan kacamata, tetapi juga layanan klinik mata. Vio Optical Clinic saat ini telah memiliki 14 cabang.
“Kita baru berpartner sama VIO Optical Clinic itu. Kita akuisisi sedikit, jadi kita kerja sama bareng, sedangkan mereka itu sudah punya 14 cabang,” kata Michael.
Ke depan, Kacamatamoo juga berencana mengembangkan layanan rumah sakit mata. Namun, Michael belum mengungkapkan nilai investasi karena masih dalam tahap perencanaan.
Di sisi ekspansi internasional, Kacamatamoo telah membuka gerai MOO Eyewear di Ahmedabad, India, dan Johor Bahru, Malaysia. Perusahaan juga menyiapkan pembukaan gerai di Ho Chi Minh, Vietnam. Tahun depan, ekspansi direncanakan berlanjut ke Filipina dan Thailand.
Michael mengungkapkan penjualan di Malaysia menunjukkan hasil yang sangat baik, bahkan mencapai sekitar dua kali lipat dibandingkan Indonesia.
“Kalau India oke, sama kayak Indonesia mirip-mirip, tapi kalau yang Malaysia bagus banget, dua kalinya kita,” ujarnya.
Secara kinerja, Kacamatamoo mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 30% setiap tahun. Sementara itu, periode balik modal atau break even point (BEP) untuk satu outlet rata-rata tercapai dalam waktu 22 bulan.
“Setiap tahun ya kita growth itu 30% konsisten. Itu revenue-nya,” kata Michael.
Michael menambahkan perusahaan saat ini tengah melakukan penggalangan dana untuk mempercepat ekspansi bisnis.
“Kita pengen beli waktu. Makanya kita fundraising kayak gini kan. Kita pengen ekspansi lebih cepat lagi, scale lebih banyak lagi,” tutupnya.

