STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 2% pada akhir perdagangan Kamis (9/7/2026) waktu setempat atau Jumat (10/7/2026). Penurunan ini terjadi karena para mediator berusaha keras mencegah perang besar antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent turun 2,2%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 76,30 USD per barel di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh sekitar 2%. Minyak WTI berakhir pada posisi 72,08 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Qatar dan Pakistan kini tengah bekerja keras membawa Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan. Upaya ini dilakukan untuk mendinginkan suasana setelah ketegangan militer meningkat tajam.
Harga minyak sempat melonjak pada awal sesi perdagangan. Kenaikan tersebut terjadi setelah AS membom sekitar 90 target di Iran pada malam sebelumnya.
Serangan ini merupakan balasan hari kedua atas aksi Iran terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz. Media pemerintah Iran melaporkan Teheran membalasnya dengan menembakkan rudal dan drone ke aset-aset AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania.
Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz terpantau melambat pada pekan ini. Kondisi keamanan di jalur laut tersebut terus memburuk.
Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, menilai pasar minyak belum memperhitungkan penutupan total Selat Hormuz. Menurutnya, pasar sedang menyesuaikan diri dengan situasi konflik yang tidak menentu.
“Ini tampaknya mencerminkan harga untuk normal baru. Periode konflik (mungkin kita bisa menyebutnya pertempuran rudal) terjadi di antara periode tenang (atau gelisah) yang memungkinkan transit kapal tanker,” ujar Lipow.
Analis Citibank memprediksi AS dan Iran akan kembali bernegosiasi dalam dua minggu ke depan. Kedua negara dinilai memiliki risiko terlalu besar jika infrastruktur energi di wilayah tersebut hancur.
Citibank menyebut Presiden Donald Trump memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Hal ini menjadi alasan kuat bagi AS untuk segera berdamai.
“Di sisi AS, Presiden Trump telah menunjukkan kecintaan pada harga ekuitas yang kuat dan pasar obligasi yang stabil. Ini menjadi dasar pandangan kami dia akan kembali bernegosiasi dalam waktu relatif singkat,” ungkap para analis Citi

