STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pasukan Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Iran selatan pada Senin (25/5/2026) waktu setempat. Langkah militer ini menargetkan sejumlah situs rudal dan kapal-kapal yang berusaha menyebar ranjau laut. Ketegangan baru ini terjadi di tengah upaya negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Mengutip BBC, Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan serangan tersebut merupakan aksi pertahanan diri. Langkah ini diambil guna melindungi pasukan AS dari ancaman militer Iran. Lokasi serangan berada di dekat Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang menjadi markas angkatan laut Iran di Selat Hormuz.
Juru Bicara Centcom, Capt Tim Hawkins menjelaskan militer AS tetap berupaya menahan diri selama masa gencatan senjata. Namun, keamanan pasukan tetap menjadi prioritas utama di wilayah tersebut.
“Pasukan AS melakukan serangan pertahanan diri di Iran selatan hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman pasukan Iran,” ujar Hawkins.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menjatuhkan pesawat tak berawak (drone) milik AS. Mereka juga melaporkan telah menembaki jet tempur yang memasuki wilayah udara Iran. Pihak Iran menegaskan memiliki hak pasti untuk membalas setiap pelanggaran gencatan senjata oleh AS.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqai menyebutkan proses negosiasi belum mencapai titik final. Meskipun sebagian besar isu telah dibahas, kesepakatan belum akan ditandatangani dalam waktu dekat.
“Sangat tepat untuk mengatakan kami telah mencapai kesimpulan pada sebagian besar masalah yang dibahas. Namun, untuk mengatakan ini berarti penandatanganan kesepakatan sudah dekat, tidak ada yang bisa mengklaim seperti itu,” kata Baqai.
Kabar serangan ini menjadi sorotan para investor global. Hal ini mengingat posisi Selat Hormuz sebagai urat nadi pengiriman minyak dunia. Sebelumnya, konflik di wilayah ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah secara signifikan.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyatakan pembukaan Selat Hormuz adalah harga mati. Ia menilai tindakan Iran yang mengganggu jalur pelayaran tersebut merupakan aksi ilegal. Rubio menegaskan Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk kepentingan dunia.
“Selat itu harus terbuka. Apa yang terjadi di sana melanggar hukum, ilegal, tidak berkelanjutan bagi dunia, dan tidak dapat diterima,” tegas Rubio.
Presiden Donald Trump sendiri menunjukkan sikap yang tegas dalam proses negosiasi ini. Trump menginginkan kesepakatan yang benar-benar menguntungkan posisi Amerika Serikat.
“Dia akan membuat kesepakatan yang bagus atau tidak sama sekali,” tambah Rubio.
Rencana kesepakatan yang tengah dibahas mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Poin penting lainnya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz dan kelanjutan negosiasi program nuklir Iran. Trump meminta Iran segera menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya atau menghancurkannya di lokasi.
Berdasarkan data Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran diperkirakan memiliki sekitar 440 kg uranium dengan tingkat kemurnian 60%. Jumlah ini hanya selangkah lagi menuju level 90% yang dibutuhkan untuk membuat bom nuklir.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei memberikan peringatan keras. Ia menyatakan Timur Tengah tidak akan lagi menjadi perisai bagi pangkalan militer AS. Khamenei menilai posisi Amerika di kawasan tersebut terus melemah dari hari ke hari.
“Selain tidak lagi memiliki tempat aman untuk kejahatan dan mendirikan pangkalan militer di wilayah tersebut, Amerika menjauh dari status sebelumnya hari demi hari,” ujar Khamenei.
Pasukan AS dan Iran sebenarnya telah melakukan gencatan senjata sejak 8 April lalu. Namun, insiden terbaru di Bandar Abbas ini kembali menimbulkan ketidakpastian di pasar komoditas dan energi global. Investor kini menanti kelanjutan pembicaraan antara diplomat Iran dan Qatar yang diharapkan bisa meredam situasi.

