Kisah Aldo Henry Artoko: Dari Pecinta Alam Jadi Bos Arkora Hydro

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Aldo Henry Artoko, Direktur Utama PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), punya cerita perjalanan karir yang penuh inspirasi. Awalnya, ia aktif sebagai pecinta alam, namun kini ia dikena...

Kisah Aldo Henry Artoko: Dari Pecinta Alam Jadi Bos Arkora Hydro
Bacakan Artikel

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Aldo Henry Artoko, Direktur Utama PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), punya cerita perjalanan karir yang penuh inspirasi. Awalnya, ia aktif sebagai pecinta alam, namun kini ia dikenal sebagai pelopor energi terbarukan di Indonesia.

Aldo mengenyam pendidikan di Kolese Kanisius Jakarta. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke University of New South Wales, Australia, dan lulus dengan gelar Bachelor of Engineering pada 2007.

Setelah lulus, Aldo bekerja di perusahaan konsultan teknik asal Amerika, Parsons Brinckerhoff. Ia terlibat dalam proyek besar seperti MRT dan pembangkit listrik tenaga gas. Namun, pada 2009, ia memutuskan kembali ke Indonesia untuk memulai bisnis energi terbarukan.

โ€œSejak SMA, saya aktif di kegiatan pecinta alam. Dari situ, saya ingin membangun bisnis yang tidak merusak lingkungan,โ€ ungkap Aldo kepada stockwatch.id.

Saat itu, subsidi BBM untuk kelistrikan mencapai Rp100 triliun. Menurut Aldo, kondisi ini membuka peluang besar untuk mengembangkan energi tenaga air (hydropower) yang lebih ramah lingkungan. โ€œIndonesia masih terlalu bergantung pada batu bara dan gas. Saya berpikir, kenapa tidak membangun pembangkit listrik tenaga air yang lebih bersih?โ€ jelasnya.

Perjalanan membangun Arkora Hydro tidaklah mudah. Aldo memulai bisnis ini dari nol tanpa bantuan karyawan. โ€œKaryawan pertama saya ya saya sendiri,โ€ katanya. Ia harus mencari lokasi proyek, mengurus izin lingkungan, hingga mendapatkan kontrak dengan PLN.

Aldo masih ingat betul saat pertama kali mengunjungi lokasi proyek seorang diri. โ€œAwalnya, semuanya saya lakukan sendiri,โ€ kenangnya. Lambat laun, ia membentuk tim hingga kini Arkora Hydro memiliki 230 hingga 270 karyawan di seluruh grup.

Salah satu tantangan besar adalah mencari pendanaan. โ€œDulu, bank-bank tidak percaya pada proyek energi terbarukan seperti PLTA. Mereka lebih tertarik pada batu bara,โ€ ujarnya. Untuk membiayai proyek, Aldo bahkan harus meminjam uang dari berbagai sumber dan menjaminkan tanah milik keluarganya.

Namun, Aldo yakin hasil kerja kerasnya akan membuahkan kepercayaan. โ€œSekarang, setelah proyek kami berhasil, bank-bank mulai melirik kami,โ€ tambahnya.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: