Harapan Damai AS-Iran Masih Ada, Bursa Saham Asia Mayoritas Melaju di Jalur Hijau

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas menguat pada penutupan perdagangan Selasa (14/4/2026). Investor tetap optimistis kesepakatan antara Washington dan Teheran masih mungkin tercapai. Sentimen positif ini muncul meski Amerika Serikat (AS) mulai memblokade pengiriman Iran di Selat Hormuz.

Mengutip CNBC International, kondisi gencatan senjata AS-Iran saat ini dinilai sangat rapuh. Kedua negara saling tuduh mengenai pelanggaran ketentuan gencatan senjata. AS telah memblokir kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran guna menekan Teheran membuka kembali rute minyak utama tersebut.

Indeks Kospi Korea Selatan ditutup melonjak 2,74% ke level 5.967,75. Sementara itu, indeks Kosdaq yang mencakup saham berkapitalisasi kecil melesat 2% ke posisi 1.121,88.

Bursa Jepang juga mencatatkan kinerja gemilang. Indeks Nikkei 225 terbang 2,43% dan berakhir di posisi 57.877,39. Indeks Topix yang lebih luas juga naik 0,87% menjadi 3.755,27.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 ditutup naik 0,5% ke level 8.970,8. Kepercayaan bisnis di Australia pada Maret sempat turun akibat kekhawatiran perang Iran yang memicu guncangan minyak global.

Pasar saham China daratan ikut menghijau. Indeks CSI 300 naik 1,19% ke level 4.701,28. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga menguat 0,88% pada jam terakhir perdagangan. Sementara itu, pasar saham India tutup karena hari libur nasional.

Meskipun ada blokade, harga minyak dunia terpantau melandai. Harga West Texas Intermediate (WTI) turun 2,80% ke level USD 96,31 per barel. Minyak jenis Brent juga merosot 1,22% ke posisi USD 98,14 per barel.

Pejabat Iran memperingatkan langkah blokade AS hanya akan mendorong harga energi global lebih tinggi. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan kritiknya melalui sebuah unggahan di media sosial X.

“Nikmatilah angka pompa saat ini. Dengan apa yang disebut ‘blokade’, segera Anda akan bernostalgia dengan bensin seharga USD 4–USD 5,” tulis Ghalibaf.

Dari sisi ekonomi, pertumbuhan ekspor China kehilangan momentum pada Maret. Para produsen menghadapi kenaikan biaya komoditas dan energi akibat gangguan pasokan di Timur Tengah.

Ekspor China tumbuh 2,5% dalam mata uang USD secara tahunan. Angka ini jauh di bawah perkiraan jajak pendapat Reuters sebesar 8,6%. Namun, impor China mencatat ekspansi tercepat dalam lebih dari empat tahun terakhir.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street ‘Bullish’ 2 Hari Beruntun: Harapan Damai AS-Iran Kerek Nasdaq 1,96%

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Harapan Damai AS-Iran Bersemi, Bursa Saham Eropa Kompak Parkir di Zona Hijau

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Prabowo-Putin Perkuat Kemitraan Strategis, Fokus Sektor Ekonomi dan Energi

STOCKWATCH.ID (MOSKOW) –  Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menggelar...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru