STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – NH Korindo Sekuritas Indonesia memproyeksikan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah hingga akhir tahun. Target nilai tukar USD/Rp diperkirakan berada pada rentang Rp17.250 hingga Rp17.350.
Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama, menyampaikan proyeksi tersebut dalam laporannya. Ketidakpastian geopolitik eksternal menjadi pemicu utama menurunnya kepercayaan terhadap pasar Indonesia. Lembaga pemeringkat kredit internasional seperti Moody’s dan Fitch juga telah memberikan prospek negatif bagi Indonesia.
“Kami memprakirakan USD/Rp dengan target akhir tahun sebesar Rp17.250-Rp17.350 akibat ketidakpastian geopolitik eksternal,” ujar Ezaridho Ibnutama di Jakarta, dikutip Rabu (15/4/2026).
Ezaridho menyoroti kurangnya kejelasan dampak program sosial pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi agresif. Muncul kekhawatiran program tersebut hanya menjadi bantalan untuk meredam lonjakan pengangguran. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kebutuhan utang dan pengeluaran APBN.
Sektor fiskal juga sedang dalam tekanan akibat harga energi global. Menteri Keuangan Purbaya sebelumnya melakukan uji ketahanan (stress test) APBN 2026 dengan asumsi harga minyak USD 92 per barel. Namun, harga minyak mentah Brent sempat melonjak ke level USD 118,35 per barel.
Menteri Keuangan Purbaya menyatakan siap mengundurkan diri jika target pertumbuhan ekonomi tidak tercapai. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 ditargetkan mencapai 6%. Saat ini, konsensus pertumbuhan ekonomi baru berada di level 5% (lima persen).
Bank Indonesia (BI) turut menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Gubernur BI, Perry Warjiyo, dijadwalkan memberikan penjelasan kepada DPR terkait depresiasi Rupiah. Saat ini posisi Rupiah telah melampaui level psikologis Rp17.000 per USD.
Independensi bank sentral juga mendapat sorotan publik. Hal ini terjadi usai penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Wakil Gubernur BI. Sebelumnya, Thomas Djiwandono menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
BI merespons pelemahan mata uang dengan memperketat aturan devisa. Batas maksimal pembelian mata uang asing diturunkan dari USD 100 ribu menjadi USD 50 ribu per orang setiap bulan. Langkah ini diambil untuk memerangi pelarian modal keluar negeri.
Cadangan devisa Indonesia juga terpantau mengalami penurunan signifikan. BI melaporkan cadangan devisa merosot dari USD 151,9 miliar pada Februari menjadi USD 148,2 miliar pada Maret.
Secara historis, Indonesia pernah mengalami beberapa fase depresiasi mata uang yang parah. Kasus tersebut terjadi pada era Soekarno tahun 1956, Krisis Keuangan Asia 1998, dan fenomena Taper Tantrum tahun 2013.
Sentimen global saat ini masih sangat fluktuatif. Indeks Dolar AS (DXY) sempat menembus level 100 sebelum akhirnya stabil di rentang 98,7-98,9. Investor asing mencatatkan aliran modal keluar (outflow) dari pasar negara berkembang sebesar USD 70,3 miliar (tujuh puluh koma tiga miliar dolar AS) sepanjang Maret 2026.
