Sinyal Perundingan AS-Iran Menguat, Harga Minyak Mentah WTI Ambles ke Level 91 USD

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot tajam pada akhir perdagangan Selasa (13/4/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (15/4/2026) WIB. Penurunan ini dipicu oleh sinyal dari Gedung Putih mengenai kemungkinan perundingan damai tahap kedua antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei anjlok hampir 8%. Minyak WTI ditutup pada posisi 91,28 USD per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni jatuh lebih dari 4%. Harga minyak acuan global ini berakhir pada level 94,79 USD per barel di London ICE Futures Exchange.

Pemerintah Trump saat ini tengah mempertimbangkan pembicaraan lebih lanjut dengan Teheran. Meskipun demikian, jadwal resmi untuk pertemuan tersebut belum ditetapkan.

Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan langkah selanjutnya dalam upaya perdamaian kini bergantung pada pihak Iran. Pernyataan ini muncul setelah perundingan di Islamabad, Pakistan, gagal menghasilkan kesepakatan pada akhir pekan lalu.

“Apakah kita melakukan percakapan lebih lanjut, apakah kita akhirnya mencapai kesepakatan, saya benar-benar berpikir bolanya ada di tangan Iran, karena kami telah menaruh banyak hal di atas meja,” ujar Vance dalam sebuah wawancara dengan Fox News.

Di sisi lain, Angkatan Laut AS telah memulai blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Persia sejak Senin. Langkah ini merupakan upaya untuk menekan Teheran agar bersedia memberikan konsesi dalam negosiasi.

Vivek Dhar dari Commonwealth Bank of Australia memberikan analisanya terkait dampak blokade tersebut. Menurutnya, tindakan ini membahayakan ekspor minyak Iran melalui Selat Hormuz secara langsung. Data menunjukkan ekspor tersebut mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari pada bulan lalu.

“Oleh karena itu, blokade tersebut semakin memperketat pasar fisik minyak dan produk olahan,” jelas Dhar.

Sementara itu, International Energy Agency (IEA) mengeluarkan prediksi terbaru mengenai kondisi pasar. IEA memperkirakan guncangan pasokan akibat perang Iran akan menekan permintaan minyak sepanjang tahun ini. Para konsumen mulai mengurangi konsumsi sebagai respons atas lonjakan harga bahan bakar.

IEA memproyeksikan permintaan minyak akan menyusut sebesar 1,5 juta barel per hari pada kuartal kedua. Angka ini menandai penurunan terbesar sejak masa pandemi Covid-19.

Secara keseluruhan, permintaan minyak tahun ini diperkirakan turun sebesar 80.000 barel per hari. Proyeksi ini berbanding terbalik dengan perkiraan IEA sebelumnya mengenai pertumbuhan konsumsi sebesar 640.000 barel per hari.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas Spot Melesat 1,1%, Perak Terbang 3,3%! Ternyata Ini Pemicunya

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia menguat lebih dari...

Harga Emas Anjlok Terseret Konflik Global, Simak Peringatan Penting dari Analis Ini

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia bergerak lesu pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru