STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas ditutup melemah pada perdagangan Selasa (28/4/2026). Investor tengah mencermati perkembangan terbaru terkait sinyal negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip CNBC International, Presiden AS Donald Trump bersama tim keamanan nasional membahas tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Langkah ini bergantung pada kesediaan AS mencabut blokade dan mengakhiri konflik. Hingga kini belum ada kepastian apakah Trump akan menerima proposal deeskalasi tersebut.
Trump sebelumnya menyatakan pelonggaran sanksi hanya akan diberikan jika kesepakatan sudah tercapai sepenuhnya. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan konfirmasinya dalam konferensi pers.
“Saya akan mengonfirmasi presiden telah bertemu dengan tim keamanan nasionalnya pagi ini,” ujar Leavitt.
Indeks Nikkei 225 Jepang merosot 1,02% dan berakhir di posisi 59.917,46. Penurunan ini terjadi setelah indeks tersebut mencetak rekor tertinggi pada hari Senin. Sebaliknya, indeks Topix justru menguat 0,99% ke level 3.772,19.
Bank sentral Jepang (Bank of Japan) mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 0,75%. Otoritas moneter tersebut merevisi naik estimasi inflasi. Perang Iran dinilai meningkatkan risiko gangguan pada sisi pasokan.
Di Korea Selatan, indeks Kospi naik tipis 0,39% ke level 6.641,02. Namun, indeks Kosdaq yang mencakup saham berkapitalisasi kecil turun 0,86% ke posisi 1.215,58. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,64% menjadi 8.710,7.
Pasar saham China juga berada di zona merah. Indeks Hang Seng Hong Kong terpangkas 0,48% pada jam terakhir perdagangan. Indeks CSI 300 di China daratan melemah 0,27% ke level 4.758,21.
Bursa India turut mencatatkan penurunan. Indeks Nifty 50 turun 0,40% ke posisi 23.995,70. Indeks BSE Sensex juga kehilangan 0,47% pada perdagangan hari ini.
Dari sisi korporasi, saham Lightelligence melonjak lebih dari 380% pada debut perdananya di bursa. Perusahaan komputasi optik asal China ini meraup dana segar sekitar USD 323 juta. Sebaliknya, saham Contemporary Amperex Technology (CATL) anjlok 7% usai memulai penawaran saham senilai USD 5 miliar di Hong Kong.
