STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% pada akhir perdagangan Selasa (28/4/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (29/4/2026) WIB. Kenaikan tajam ini dipicu laporan mengenai ketidakpuasan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni melonjak lebih dari 3%. Harga minyak acuan AS ini ditutup pada level 99,93 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Adapun harga minyak mentah Brent naik hampir 3%. Minyak acuan global ini berakhir pada posisi 111,26 USD per barel di London ICE Futures Exchange.
Laporan The New York Times menyebutkan Trump telah menyampaikan rasa tidak puas kepada para penasihatnya. Belum ada kejelasan mengenai alasan pasti sang presiden menolak tawaran Teheran tersebut. Iran menawarkan pembukaan kembali selat jika AS mencabut blokade angkatan laut dan mengakhiri konflik.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio meragukan niat Iran tersebut. Ia menilai Teheran hanya akan membuka selat jika tetap memegang kendali penuh atas jalur pelayaran. Rubio menegaskan wilayah tersebut merupakan perairan internasional yang tidak boleh dikuasai secara sepihak.
“Itu bukan membuka selat. Itu adalah jalur air internasional. Mereka tidak bisa menormalkan, kita juga tidak bisa menoleransi mereka yang mencoba menormalkan sebuah sistem di mana orang Iran memutuskan siapa yang boleh menggunakan jalur air internasional dan berapa banyak Anda harus membayar mereka untuk menggunakannya,” tegas Rubio dalam wawancara dengan Fox News.
Investor juga memantau kondisi OPEC setelah Uni Emirat Arab (UEA) membuat pengumuman mengejutkan. Negara tersebut menyatakan akan keluar dari keanggotaan organisasi produsen minyak tersebut mulai Jumat mendatang.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia. Saat ini, jalur tersebut praktis tertutup bagi lalu lintas kapal tanker. Kondisi ini memutus sebagian besar ekspor minyak dari wilayah Teluk ke pasar global.
Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, menyebut sekitar 20 juta barel minyak mentah, bahan bakar, dan petrokimia terdampak setiap harinya. Pemulihan kondisi pasar ke level normal diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan meski konflik segera berakhir.
Proses pembersihan ranjau dan penguraian kemacetan kapal tanker menjadi tantangan utama. Produksi dan pengilangan juga perlu dimulai kembali secara bertahap. Lipow memprediksi stabilitas pasar minyak baru dapat tercapai dalam empat hingga enam bulan ke depan.
“Semakin lama konflik berlanjut, semakin tinggi harganya, terutama saat persediaan ditarik ke tingkat operasional yang kritis. Jika konflik berakhir besok, harga minyak mentah diperkirakan akan turun 10 USD per barel,” ujar Lipow.
Harga minyak diprediksi tetap bertahan di level tinggi selama stok minyak dunia mendekati ambang batas kritis. Pelaku pasar kini menunggu langkah diplomasi selanjutnya di tengah gangguan aliran energi global yang semakin parah.
