STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia ditutup menguat lebih dari 1% pada perdagangan Senin (25/5/2026) waktu setempat. Kenaikan ini dipicu oleh optimisme tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kabar tersebut membuat nilai tukar dolar AS melemah dan harga minyak dunia melandai.
Mengutip CNBC International, harga emas spot naik 1,1% ke posisi USD 4.559,07 per ons troi pada pukul 07.36 GMT. Di pasar berjangka AS, kontrak emas untuk pengiriman Juni juga tumbuh 0,8% menjadi USD 4.559,80 per ons troi.
Pelaku pasar merespons positif prospek berakhirnya ketegangan di Timur Tengah. Penurunan harga minyak dunia ikut meredakan kekhawatiran terhadap inflasi global. Situasi ini memberikan ruang bagi harga emas untuk terus merangkak naik.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebenarnya sempat memberikan peringatan. Ia mengaku tidak terburu-buru merampungkan kesepakatan dengan Iran. Namun, investor lebih memilih berpegang pada pernyataan Trump pada Sabtu lalu.
Trump menyebut Washington dan Iran telah melakukan negosiasi besar. Kedua negara dikabarkan menyusun nota kesepahaman untuk kesepakatan damai. Langkah ini mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang sangat krusial bagi jalur energi dunia.
Tim Waterer, Chief Market Analyst di KCM Trade, memberikan analisanya terkait kondisi tersebut. Ia melihat faktor Trump sangat dominan dalam menggerakkan ekspektasi pasar saat ini.
“Trump telah meningkatkan harapan pasar akan semacam kesepakatan dengan Iran, yang dapat menyebabkan pembukaan kembali Selat Hormuz. Prospek tersebut telah menekan harga minyak dan, secara tidak langsung, memberikan dorongan positif bagi emas dari perspektif inflasi,” ujar Tim.
Sikap pemerintah AS terhadap Iran juga tetap tegas namun terbuka pada negosiasi. Hal ini ditegaskan oleh pejabat tinggi negara tersebut di tengah proses diplomasi yang berlangsung.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pemerintah ingin hasil yang terbaik dari proses ini. “Amerika Serikat akan memiliki perjanjian yang baik dengan Iran atau berurusan dengan negara itu melalui cara lain,” kata Marco pada Senin waktu setempat.
Kondisi mata uang AS turut mendukung penguatan logam mulia. Indeks dolar berada di sekitar level terendahnya dalam sepekan terakhir. Pelemahan ini membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya.
Harga minyak dunia juga menyentuh level terendah dalam dua minggu. Pergerakan harga minyak sangat memengaruhi ekspektasi inflasi global. Harga minyak yang tinggi dapat memicu inflasi dan memaksa suku bunga tetap tinggi dalam waktu lama.
Emas sering kali dianggap sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan emas karena logam ini tidak memberikan imbal hasil. Investor kini terus mencermati arah kebijakan bank sentral AS.
Di sisi lain, Kevin Warsh baru saja dilantik sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) pada Jumat lalu. Ia memulai jabatannya di tengah momen penting bagi ekonomi Amerika. Lonjakan harga bensin akibat perang Iran sebelumnya sempat memicu inflasi dan menekan sentimen konsumen.
Tren kenaikan harga pada perdagangan kali ini juga diikuti oleh logam mulia lainnya. Harga perak spot melonjak 3,1% menjadi USD 77,79 per ons troi.
Logam platinum juga mencatatkan kenaikan sebesar 2,3% ke posisi USD 1.966,59 per ons troi. Sementara itu, paladium turut menguat 2,7% ke level USD 1.384,70 per ons troi.

