spot_img

AS Serang Iran, Harga Minyak Bergejolak dan Era Baru The Fed Dimulai

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Pasar global bergerak dinamis pada perdagangan Selasa (26/5/2026) WIB. Investor dunia dihadapkan pada kombinasi sentimen geopolitik, perubahan kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat (AS), hingga persaingan teknologi antara Huawei, Nvidia, dan Apple.

Dikutip dari CNBC International, ketegangan terbaru datang dari Timur Tengah setelah militer AS melancarkan serangan ke Iran. Komando Pusat AS menyebut serangan tersebut dilakukan untuk melindungi pasukan Amerika dari ancaman militer Iran.

Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiasi dengan Iran berjalan cukup baik. Namun, Trump juga mengingatkan kemungkinan kembali ke aksi militer jika kesepakatan gagal tercapai.

Korps Garda Revolusi Islam Iran langsung merespons. Iran menyatakan akan melakukan pembalasan atas pelanggaran gencatan senjata yang terjadi.

Situasi tersebut memicu pergerakan harga minyak dunia. Kontrak berjangka minyak Brent melonjak lebih dari 2% setelah sebelumnya sempat anjlok 7% sehari sebelumnya. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate bergerak lebih rendah sekitar 4%.

Di sisi lain, Trump sebelumnya mengungkapkan kesepakatan dengan Iran sebenarnya sudah hampir rampung. “Kesepakatan dengan Iran sebagian besar sudah dinegosiasikan,” tulis Trump di media sosial.

Mantan Direktur CIA David Petraeus juga menilai Iran mulai melunak dalam isu Selat Hormuz. “Iran tampaknya sedang dalam proses mengalah,” ujar Petraeus kepada CNBC.

Meski pasar saham AS tutup pada Senin waktu setempat, bursa saham Eropa dan Asia justru menguat. Penguatan dipicu optimisme investor terhadap peluang tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.

Selain isu geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada pergantian pucuk pimpinan Federal Reserve. Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua The Fed pada Jumat lalu di Gedung Putih. Ia menjadi Ketua The Fed pertama sejak 1987 yang dilantik langsung di White House.

Dalam sambutannya, Trump meminta Warsh tetap independen dalam menjalankan kebijakan moneter. “Lakukan saja apa yang menurut Anda tepat,” kata Trump.

Namun, pada hari yang sama Trump juga menyampaikan harapannya agar suku bunga bisa turun lebih cepat. Kondisi ini memunculkan spekulasi pasar terkait arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

Pengamat pasar menilai Warsh kemungkinan akan membawa perubahan besar di tubuh bank sentral AS. Salah satu fokus utamanya diperkirakan mengurangi keterlibatan The Fed di pasar keuangan dan memperjelas aturan intervensi bank sentral.

Dari sektor teknologi, Huawei kembali mencuri perhatian pasar global. Perusahaan teknologi asal China itu memperkenalkan pendekatan baru dalam desain chip smartphone bernama “LogicFolding”.

Langkah Huawei dipandang meningkatkan tekanan terhadap Nvidia dan Apple di pasar China. CEO Nvidia Jensen Huang bahkan mengakui perusahaannya mulai kehilangan dominasi di pasar China akibat pembatasan ekspor dari AS.

Di sisi lain, Huawei juga terus memperkuat posisinya di pasar smartphone premium melalui produk Mate 60. Produk tersebut dinilai mulai menggerus pangsa pasar Apple di China.

- Advertisement -

Artikel Terkait

AS-Iran Kembali Saling Serang, Aktivitas Kapal di Selat Hormuz Merosot Tajam

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali...

Wall Street Menguat, Saham Semikonduktor Melonjak di Tengah Ketegangan AS-Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Bursa Saham Eropa Menguat, Sektor Sumber Daya Dasar Meroket 3,2%

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru