STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Enam emiten baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang pekan 7-10 Juli 2026 membukukan kinerja saham yang beragam. Sebagian besar saham pendatang baru langsung menyentuh auto reject atas (ARA) pada debut perdagangannya, namun ada juga yang berbalik melemah hingga berada di bawah harga penawaran umum perdana saham (IPO).
Pada pekan ini, BEI menyambut pencatatan saham PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS).
JELI dan JECX menjadi emiten pertama yang melantai pada Selasa (7/7/2026). Sehari kemudian, giliran BACH dan EMMI mencatatkan saham perdana. Sementara PRDL melantai pada Kamis (9/7/2026), disusul RANS pada Jumat (10/7/2026).
Saham RANS menjadi salah satu yang paling menonjol. Pada hari perdana perdagangan, saham emiten sektor hiburan dan film itu langsung melonjak 58 poin atau 34,12% ke level Rp228 dari harga IPO Rp170 per saham. Kenaikan tersebut membuat saham RANS menyentuh batas ARA. Volume transaksi mencapai 8,14 juta saham dengan nilai transaksi Rp1,86 miliar dan frekuensi perdagangan sebanyak 20.032 kali. Kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp2,87 triliun.
Kinerja positif juga ditunjukkan saham PRDL. Pada penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026), saham perusahaan alat kesehatan diagnostik tersebut ditutup naik 56 poin atau 34,57% menjadi Rp218 per saham dari harga IPO Rp162. Sebelumnya, pada hari pertama perdagangan Kamis (9/7/2026), saham PRDL juga mencatat kenaikan 35% dan menyentuh batas ARA.
Sementara itu, saham JELI sempat menunjukkan reli yang kuat setelah IPO. Pada hari pertama perdagangan, saham produsen makanan dan minuman pemilik merek INACO itu naik 25% ke level Rp1.125. Penguatan berlanjut hingga tiga hari berturut-turut dan secara kumulatif sempat mencapai 74,80%. Namun, pada penutupan Jumat (10/7/2026), saham JELI terkoreksi 14,81% ke level Rp1.495 per saham.
Pergerakan serupa terjadi pada saham JECX. Emiten rumah sakit spesialis mata tersebut melesat 24,80% pada debut perdagangan ke posisi Rp1.560. Saham ini bahkan sempat mencatat kenaikan kumulatif hingga 49,80% sebelum akhirnya terkoreksi dalam dua hari terakhir dan ditutup turun 13,86% menjadi Rp1.430 per saham pada akhir pekan.
Adapun saham BACH juga sempat mencatatkan kenaikan signifikan saat debut. Saham perusahaan penyedia solusi energi dan infrastruktur telekomunikasi itu naik 24,43% menjadi Rp550 per saham. Nilai transaksi saat penguatan mencapai Rp1,98 miliar dengan volume perdagangan 3,61 juta saham. Namun, saham BACH akhirnya ditutup turun 9,09% ke level Rp500 per saham pada Jumat (10/7/2026).
Berbeda dengan emiten lainnya, saham EMMI menjadi satu-satunya emiten yang berakhir di bawah harga IPO. Saham perusahaan alat kesehatan tersebut sempat menguat 17,02% menjadi Rp550 pada hari pertama perdagangan. Namun, tekanan jual dalam dua hari berikutnya membuat saham EMMI ditutup turun 2% ke level Rp490 per saham atau di bawah harga IPO Rp500 per saham.
Dengan demikian, dari enam emiten yang melantai di BEI sepanjang pekan ini, lima saham masih diperdagangkan di atas harga IPO hingga penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026). Sementara satu emiten, yakni EMMI, tercatat berada di bawah harga penawaran perdananya.
Kinerja saham-saham IPO tersebut terjadi di tengah kondisi pasar yang cenderung positif. Selama periode 6-10 Juli 2026, IHSG naik 0,83% ke level 5.924,360. Rata-rata frekuensi transaksi harian Bursa meningkat 29,69% menjadi 1,87 juta kali transaksi dan rata-rata volume transaksi harian naik 16,83% menjadi 20,49 miliar saham.
Ulasan Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta Utama memberikan ulasan mendalam mengenai kinerja enam emiten baru tersebut.
Nafan menilai kenaikan harga saham IPO lebih dipengaruhi euforia akibat kondisi kelebihan permintaan. “Kenaikan harga saham IPO lebih dipengaruhi oleh euforia ketika IPO-nya itu mengalami kejadian over-subscribe ya kan? Karena biasanya minat investor pada masa penawaran itu memang tinggi sehingga jadi over-subscribe,” kata Nafan kepada stockwatch.id di Jakarta, Minggu (12/7/2026).
Menurut Nafan, tingginya permintaan investor ini didorong oleh minimnya aksi IPO sepanjang semester satu 2026. Antusiasme investor meningkat drastis saat gelombang IPO mulai ramai pada bulan Juli. Hal ini memicu rotasi modal dana ke saham-saham pendatang baru.
Meski demikian, Nafan mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati. Kenaikan harga yang terlalu jauh bisa melampaui pertumbuhan fundamental dan valuasi emiten. Kondisi ini membuat harga saham menjadi terlalu premium dibandingkan emiten sejenis di sektor yang sama.
“Investor juga disarankan untuk lebih prudent. Karena bisa jadi kenaikan ini mulai terbatas dan risiko koreksi meningkat. Apalagi kalau misalnya euforia IPO mereda,” ujar Nafan.
Terkait penurunan harga saham seperti PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) di akhir pekan, Nafan melihatnya sebagai hal lumrah. Koreksi ini mencerminkan aksi ambil untung atau profit taking dari pelaku pasar.
“Ini merupakan hal yang lazim terjadi pada saham IPO karena kebanyakan di sini ritel apalagi lebih kepada jangka pendek. Mereka bisa memperoleh capital gain dalam waktu yang singkat,” jelasnya.
Nafan menekankan pergerakan harga saham pada akhirnya akan kembali mengikuti kemampuan ekonomi emiten. Fundamental perusahaan tetap menjadi kunci utama dalam menciptakan pertumbuhan kinerja jangka panjang.

