STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Pasukan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan pertahanan diri di wilayah Iran Selatan pada Selasa (26/5/2026) pagi waktu setempat. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan langkah ini bertujuan melindungi tentara dari ancaman pasukan Iran.
Mengutip CNBC International, juru Bicara CENTCOM, Tim Hawkins menyebut target serangan mencakup lokasi peluncuran rudal. Selain itu, serangan menyasar kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau.
“U.S. Central Command terus membela pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung,” kata Hawkins.
Aksi militer ini terjadi saat Presiden AS, Donald Trump terus mengupayakan kesepakatan damai di kawasan tersebut. Trump mengklaim pembicaraan damai tersebut berlangsung dengan baik.
Meski demikian, Trump memberikan peringatan keras terkait hasil negosiasi tersebut. Ia menegaskan tidak akan menerima kesepakatan yang setengah-setengah.
“Ini hanya akan menjadi Kesepakatan Besar untuk semua atau, tidak ada Kesepakatan sama sekali,” ujar Trump.
Trump mengancam akan membawa situasi kembali ke medan pertempuran. Ia menyebut eskalasi tersebut akan menjadi lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya.
Laporan Fox News yang mengutip pejabat senior AS menyebutkan kesepakatan dengan Iran sebenarnya sudah rampung 95%. Namun, masih ada ganjalan terkait stok uranium Iran.
Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump meminta cadangan uranium Iran segera diserahkan kepada AS. Ia ingin bahan tersebut dibawa pulang dan dihancurkan atau dimusnahkan di lokasi lain yang disepakati. Hingga kini, Teheran belum menunjukkan kesediaan untuk menghancurkan cadangan uranium mereka.
Di sisi lain, Trump mendesak negara-negara Arab menandatangani Abraham Accords untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Namun, Pakistan menolak mentah-mentah tuntutan tersebut. Sumber Reuters menyebutkan kedua isu itu tidak saling terkait dan tidak bisa disatukan.
Ketegangan ini memicu pergerakan variatif pada harga minyak mentah dunia. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 5% ke level USD 91,87 per barel. Sebaliknya, minyak acuan global jenis Brent justru naik 2,14% menjadi USD 98,2 per barel.
Partner dari firma penasihat Brunswick, Chen Lanhee memberikan pandangannya terkait kondisi ini. Ia menilai mayoritas masyarakat Amerika hanya ingin perang segera berakhir.
“Tidak peduli apa yang dimiliki atau tidak dimiliki Iran, tidak peduli bagaimana bentuk kesepakatannya. Mereka hanya ingin perang berakhir untuk menurunkan harga bensin,” jelas Chen.

