STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memperkuat strategi untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat penawaran umum perdana saham (IPO) dan destinasi investasi di Asia Tenggara. Langkah tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah IPO, tetapi juga pada kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal.
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Saidu Solihin, mengatakan daya saing pasar modal Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya perusahaan yang melantai di bursa.
“Untuk memperkuat positioning Indonesia sebagai salah satu tujuan penghimpunan dana dan investasi di kawasan, BEI memandang daya saing tidak hanya ditentukan oleh jumlah IPO, tetapi juga oleh kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal,” kata Saidu di Press Room BEI, Kamis (9/7/2026).
Menurut Saidu, salah satu strategi yang terus dikembangkan ialah memperkuat ekosistem pada tahap pra-IPO. Langkah tersebut dimulai dari meningkatkan kesiapan perusahaan sesuai karakteristik masing-masing segmen, menyederhanakan proses pencatatan saham, hingga membangun konektivitas yang lebih kuat antara perusahaan prospektif dan calon investor melalui pendekatan yang lebih proaktif.
“Harapannya, semakin banyak perusahaan berkualitas yang melihat Pasar Modal Indonesia sebagai pilihan utama untuk bertumbuh,” ujarnya.
Selain tahap pra-IPO, BEI juga memberi perhatian pada penciptaan nilai setelah perusahaan tercatat di bursa atau post-IPO value creation.
Saidu menjelaskan, keberhasilan perusahaan setelah melantai di bursa turut menentukan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor. Karena itu, BEI terus memperkuat berbagai inisiatif untuk mendukung perusahaan tercatat.
Upaya tersebut mencakup penguatan praktik tata kelola perusahaan, peningkatan kualitas hubungan dengan investor (investor relations), serta dukungan kepada perusahaan tercatat dalam menciptakan nilai jangka panjang.
“Dengan ekosistem yang mendukung sejak tahap pre-IPO hingga post-IPO, diharapkan kepercayaan investor semakin meningkat dan daya saing pasar modal Indonesia sebagai destinasi investasi di kawasan dapat terus diperkuat,” kata Saidu.
Selain membangun ekosistem di dalam negeri, BEI juga memperluas konektivitas dengan bursa efek regional untuk meningkatkan akses investor global terhadap pasar modal Indonesia.
Sebagai tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 2024, BEI pada tahun lalu meluncurkan Unsponsored Depositary Receipts Linkage bersama SGX Group. Inisiatif ini ditujukan untuk memperluas basis investor sekaligus meningkatkan visibilitas perusahaan tercatat Indonesia di pasar internasional.
Di sisi lain, BEI juga menjalin kerja sama dengan HKEX melalui MoU yang ditandatangani pada 2024. Kerja sama tersebut bertujuan meningkatkan konektivitas dan membuka peluang investasi yang lebih luas antara pasar modal Indonesia dan Hong Kong.
Melalui penguatan ekosistem dari tahap pra-IPO hingga pasca-IPO, disertai perluasan kerja sama dengan bursa regional, BEI berharap daya saing pasar modal Indonesia sebagai tujuan penghimpunan dana dan destinasi investasi di Asia Tenggara semakin kuat.

