STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia merosot sekitar 2% pada akhir perdagangan Kamis (21/5/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (22/5/2026) WIB.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent turun lebih dari 2% menjadi 102,58 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh hampir 2%. Minyak WTI berakhir pada posisi 96,35 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Penurunan harga didorong oleh sentimen positif dari Timur Tengah. Investor berharap Amerika Serikat (AS) dan Iran segera mencapai kesepakatan damai. Langkah ini sangat penting untuk mencegah berlanjutnya perang di kawasan tersebut.
Sebelumnya, harga si emas hitam sempat melambung lebih dari 3% pada awal sesi. Kenaikan ini dipicu oleh laporan Reuters terkait kebijakan terbaru dari Teheran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengeluarkan perintah tegas. Ia melarang uranium yang diperkaya untuk dikirim ke luar negeri dan harus tetap berada di Republik Islam tersebut.
Sikap Khamenei dinilai dapat mempersulit proses perundingan dengan AS. Presiden AS Donald Trump selama ini menjadikan pembongkaran program nuklir Iran sebagai tujuan utama peperangan.
Namun, ketegangan mulai mereda pada awal pekan ini. Trump memutuskan untuk membatalkan serangan udara lanjutan ke Iran. Keputusan ini diambil atas permintaan sekutu Arab di kawasan Teluk guna memberi lebih banyak waktu bagi proses diplomasi.
Hingga saat ini, kedua belah pihak belum menunjukkan kemajuan berarti. Gencatan senjata yang disepakati bulan lalu masih sangat rapuh.
Trump sempat mengancam akan kembali melancarkan aksi militer jika Iran tidak memberikan respons yang memuaskan dalam negosiasi. Meski begitu, ia mengaku bersedia menunggu beberapa hari lagi.
“Kami semua siap untuk bertindak. Kami harus mendapatkan jawaban yang tepat. Itu haruslah jawaban yang 100% baik dan lengkap,” kata Trump kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews di Maryland.
Ia lebih memilih menempuh jalur diplomasi jika hal tersebut bisa menyelamatkan nyawa banyak orang.
“Jika saya bisa mencegah perang dengan menunggu beberapa hari, jika saya bisa menyelamatkan orang dari kematian dengan menunggu beberapa hari, saya pikir itu adalah hal yang luar biasa untuk dilakukan,” tegas presiden AS tersebut.
Sementara itu, krisis pasokan masih membayangi pasar. Arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih terganggu parah akibat blokade Iran. Selat ini merupakan rute perdagangan krusial bagi pasokan minyak global.
Badan Energi Internasional (IEA) mengeluarkan peringatan keras pada hari Kamis. Pasar minyak terancam memasuki “zona merah” pada musim panas ini jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
Kepala IEA Fatih Birol menyoroti ancaman penyusutan pasokan dalam waktu dekat.
“Stok minyak global akan menipis seiring meningkatnya permintaan selama perjalanan musim panas,” ungkap Birol.

