spot_img

Harum Energy (HRUM) Bidik Produksi Batubara 3 Juta Ton pada 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Manajemen PT Harum Energy Tbk (HRUM) menargetkan produksi batubara di kisaran 2-3 juta ton pada 2026. Hrum juga menargetkan produksi dan penjualan nikel (dalam bentuk NPI, HG Matte dan MHP) di kisaran 107 -117 ribu ton metal pada 2026. manajemen hrum menargetkan produksi bijih nikel tahun 2026 di kisaran 8-10 juta wmt.

Dalam materi paparan publik yang disampaikan ke BEI, Selasa (26/5/2026), terungkap, sepanjang kuartal I 2026, volume penjualan batubara turun 94% menjadi 0,1 metrik ton dibandingkan 1,4 metrik ton pada kuartal I 2025. Adapun harga jual rata-rata batubara turun 10% dari US$89,6 per ton di kuartal I 2025 menjadi US$80,2 per ton pada kuartal I 2026.

Sedangkan volume penjualan nikel, menurut manajemen HRUM, mengalami peningkatan 40% dari 14.909 ton pada kuartal I 2025 menjadi 20.907 ton di kuartal I 2026. Harga jual rata-rata nikel naik 29% dari US$11.678 per ton menjadi US$15.073 per ton pada kuartal I 2026.

Dengan demikian, pendapatan HRUM meningkat 16% dari US$298,9 juta pada kuartal I 2025 menjadi US$345,9 juta di kuartal I 2026. “Sekitar 97% pendapatan HRUM dikontribusi sektor nikel,” tulis manajemen HRUM.

Sementara itu, EBITDA HRUM naik 33% dari US$57,8 juta menjadi US$76,6 juta. Adapun laba tahun berjalan HRUM melambung 272% dari US$7,3 juta di kurtal I 2025 menjadi US$27,1 juta pada kuartal I 2026. Marjin laba bersih meningkat menjadi 3% dari sebelumnya 2%.

Manajemen HRUM juga menyampaikan gambaran perkembangan pasar batubara dan Nikel. Indonesia tetap menjadi pemain utama pasar batubara global dengan pangsa pasar 35% atau 523 juta ton dari total perdagangan global 1,47 miliar ton pada tahun 2025.

Produksi batubara Indonesia pada 2025 mencapai 817 juta ton, dengan 64% ditujukan ke pasar ekspor. Ekspor batubara Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 111,2 juta ton (-10,5% YoY), dengan ekspor ke Tiongkok sebesar 42,2 juta ton (-8,9% YoY). Sebanyak 96,7% ekspor batubara Indonesia pada Maret ditujukan ke Asia. Pemerintah menargetkan volume produksi batu bara pada 2026 menjadi 600 juta ton untuk mendukung harga pasar.

Selain itu, di pasar nikel, Indonesia mendominasi pasokan nikel global dengan kontribusi lebih dari 65% dari total produksi dunia pada 2025. Harga nikel LME bertahan di sekitar US$15.000/ton sepanjang 2025. Pada akhir 2025 hingga awal 2026, harga sempat mendekati US$19.000 per ton akibat ekspektasi penurunan kuota produksi Indonesia.

Pada April 2026, pemerintah telah menyetujui kuota RKAB sebesar 190-200 juta ton dari total kuota 270 juta ton. Harga nikel LME melampaui US$19.000 per ton pada April 2026, level tertinggi dalam 23 bulan, didorong kekhawatiran atas pembatasan kuota tambang dan meningkatnya biaya produksi.

Terkait dengan rencana anggaran investasi dan belanja modal 2026, manajemen HRUM menyampaikan rencana belanja modal sebesar USD310 juta. Sekitar USD302 juta akan digunakan untuk pengembangan proyek dalam unit usaha nikel yang sudah ada, dan sisanya untuk pemeliharaan unit usaha batubara.

“Belanja modal yang sudah direalisasikan sampai dengan 31 Maret 2026 sebesar US$139 juta, sekitar US$137 juta untuk pengembangan unit usaha nikel dan sisanya untuk operasi pertambangan, logistik dan lainlain. Sebagian besar capex tersebut merupakan realisasi dari rencana belanja modal untuk tahun 2025,” tulis manajemen HRUM.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Pasca Guncangan MSCI, Mirae Asset Nilai Rebound IHSG Masih Rapuh

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai...

Investor Mandiri Herindo (MAHA) Dapat Dividen Rp12 per Saham, Cair 24 Juni 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Dividen tunai PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk...

Jual 1,48% Saham Nusatama (NTBK), Investor Perorangan Ini Cuan Miliaran

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Fitradityo Harjuno, pemegang saham perorangan PT Nusatama...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru