spot_img

Trump Instruksikan Negosiator Tak Buru-buru Soal Iran: ‘Waktu Ada di Pihak Kita’

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON DC) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta tim negosiatornya tidak tergesa-gesa mencapai kesepakatan dengan Iran. Meski pembicaraan dinilai konstruktif, ia menekankan pentingnya akurasi dalam perjanjian tersebut.

Mengutip CNBC International, langkah ini diambil setelah muncul laporan kesepakatan kedua negara sudah sangat dekat. Rencana perjanjian ini mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Selain itu, ada poin pembukaan kembali Selat Hormuz dan negosiasi program nuklir Iran.

Melalui unggahan di media sosial, Trump menyebut negosiasi berjalan tertib. Namun, ia ingin hasil yang sempurna tanpa cacat sedikit pun.

“Kedua belah pihak harus menggunakan waktu mereka dan menyelesaikannya dengan benar. Tidak boleh ada kesalahan!” tulis Donald Trump dalam unggahannya, Senin (25/5/2026) WIB.

Trump menegaskan posisi AS sangat kuat saat ini. Ia merasa tidak perlu mengejar tenggat waktu yang singkat.

“Saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk tidak terburu-buru dalam kesepakatan karena waktu ada di pihak kita,” tambahnya.

Kabar ini sempat memicu spekulasi pasar global. Sebelumnya, Trump mengisyaratkan kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan pada Sabtu lalu. Namun, media Iran melaporkan masih ada satu atau dua poin perselisihan yang belum tuntas.

Juru bicara kementerian luar negeri Iran, Esmail Baghaei, membenarkan adanya kemajuan dalam pembicaraan tersebut. Meski begitu, Baghaei menyatakan hal itu bukan jaminan kesepakatan pada isu-isu kunci akan langsung tercapai. Iran kini sedang memfinalisasi nota kesepahaman untuk pembicaraan tambahan.

Isu nuklir menjadi poin paling krusial bagi AS dan sekutunya. Trump menegaskan Iran tidak boleh mengembangkan senjata nuklir. Laporan media AS menyebut Iran kemungkinan diminta menyerahkan sekitar 440 kg uranium yang diperkaya tinggi.

Di sisi lain, Trump memastikan blokade pelabuhan Iran tetap berlaku. Tekanan ekonomi ini akan terus dijalankan sampai kesepakatan resmi ditandatangani. Blokade ini sendiri telah berlangsung sejak awal April.

Aksi saling kunci ini berdampak pada sektor energi dunia. Iran masih mengendalikan Selat Hormuz, jalur bagi 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Penutupan jalur ini membuat harga minyak melonjak tajam di pasar internasional.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mencatat adanya kemajuan signifikan dalam 48 jam terakhir. Rubio memberikan sinyal positif terkait pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya.

Namun, rencana kesepakatan ini membelah internal Partai Republik. Senator Ted Cruz menyebut langkah ini sebagai kesalahan fatal. Sementara Roger Wicker menilai gencatan senjata 60 hari hanya akan menyia-nyiakan hasil operasi militer sebelumnya.

Sebaliknya, Mike Lawler dari Komite Urusan Luar Negeri DPR mendukung langkah pemerintah. Lawler menilai AS berhasil memaksa rezim Iran masuk ke dalam negosiasi yang nyata.

Konflik ini memanas sejak AS dan Israel meluncurkan serangan luas ke Iran pada 28 Februari lalu. Iran membalas dengan menyerang Israel dan sekutu AS di Teluk. Gencatan senjata yang disepakati pada April lalu sejauh ini masih dipatuhi kedua pihak.

Wakil Perdana Menteri Pakistan, Ishaq Dar, yang menjadi mediator optimistis hasil positif segera tercapai. Namun, para pejabat AS memperkirakan tidak ada penandatanganan dokumen apa pun pada hari Senin ini.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Dow Jones Tembus 50.000, Wall Street Cetak Rekor Baru di Tengah Harapan Damai Timur Tengah

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Gagal Gandeng Estée Lauder, Saham Puig Ambles 13% Saat Bursa Saham Eropa Menguat

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Diplomasi Damai AS-Iran Beri Angin Segar, Bursa Saham Asia Kompak Menghijau

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru