STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas melemah pada penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026). Sentimen pasar tertekan oleh lonjakan harga minyak akibat kekhawatiran aksi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Meski begitu, indeks Kospi Korea Selatan berhasil mencatatkan rekor kenaikan bulanan terkuat dalam 28 tahun terakhir.
Mengutip CNBC International, indeks Kospi Korea Selatan merosot 1,38% ke level 6.598,87 pada perdagangan harian. Namun secara bulanan, indeks ini melonjak hampir 31%, merupakan kenaikan terkuat sejak Januari 1998. Sementara itu, indeks Kosdaq yang mencakup saham berkapitalisasi kecil turun 2,29% ke posisi 1.192,35.
Bursa Jepang juga berakhir di zona merah setelah kembali dibuka pasca libur. Indeks Nikkei 225 merosot 1,06% ke posisi 59.284,92. Indeks Topix yang lebih luas juga melemah 1,19% menjadi 3.727,21.
Indeks Hang Seng Index di Hong Kong terpantau turun 1,27% pada jam terakhir perdagangan. Di China daratan, indeks CSI 300 ditutup stagnan pada level 4.807,30. Adapun bursa Australia, indeks S&P/ASX 200 terkoreksi 0,24% menjadi 8.665,8.
Optimisme seputar ledakan kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utama reli pasar Korea Selatan. Raksasa semikonduktor SK Hynix melonjak 60% sepanjang bulan ini. Saham Samsung Electronics turut menguat 35% dalam periode yang sama.
Lembaga keuangan HSBC menaikkan peringkat Korea Selatan menjadi “netral” dari sebelumnya “underweight”. Mereka menilai aliran keluar modal asing baru-baru ini membantu meredakan risiko pasar.
HSBC memberikan catatan mengenai kondisi pasar modal di Negeri Ginseng tersebut.
“Aliran keluar asing baru-baru ini telah membantu mengurai penumpukan posisi di pasar dan mengurangi risiko penurunan dari volatilitas geopolitik,” tulis HSBC dalam laporannya.
Selain sektor cip, beberapa bidang lain turut menopang reli pasar. Sektor penyimpanan energi, pembuatan kapal, pertahanan, hingga tenaga nuklir menjadi tema pertumbuhan yang mendukung bursa.
Kinerja harian yang memerah dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah. Harga minyak Brent sempat naik 3,4% menjadi USD 121,98 per barel. Kenaikan ini menyusul laporan militer AS sedang menyiapkan rencana aksi militer terhadap Iran untuk Presiden Donald Trump.
Trump sebelumnya menolak usulan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Hal ini menjadi sinyal blokade angkatan laut akan tetap berlaku. Blokade tersebut akan bertahan sampai kesepakatan nuklir yang lebih luas tercapai.
Kenaikan harga minyak Brent mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022. Konflik di Timur Tengah menyebabkan pasokan energi global terhambat. Kondisi ini memicu ketidakpastian di pasar keuangan Asia.
