STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX) mencatat penurunan laba bersih yang signifikan pada kuartal pertama 2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 93,5% menjadi Rp0,6 miliar. Pada periode yang sama tahun 2025, Perseroan masih mengantongi laba Rp9,7 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, penurunan tajam ini dipicu oleh kerugian investasi yang belum terealisasi. Nilai kerugian ini membengkak menjadi Rp8,7 miliar dalam tiga bulan pertama 2026. Angka tersebut melonjak drastis dibandingkan kerugian periode sebelumnya yang hanya Rp9 juta.
Pendapatan total DMMX juga mengalami koreksi cukup dalam. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp75,2 miliar di 1Q26. Nilai ini turun 60,6% dibandingkan pendapatan 1Q25 yang mencapai Rp190,8 miliar.
Penurunan pendapatan terutama disebabkan oleh persaingan yang semakin ketat pada segmen Trade Marketing. Selain itu, aktivitas penjualan perangkat keras (hardware sales) juga tercatat menurun. Pendapatan segmen Trade Marketing turun 69,9% menjadi Rp32,8 miliar, sementara hardware sales anjlok 92,5% menjadi Rp4 miliar.
Meski pendapatan turun, laba kotor DMMX justru tumbuh 6,5% menjadi Rp26,4 miliar dari sebelumnya Rp24,8 miliar. Pertumbuhan ini ditopang oleh kontribusi segmen dengan margin lebih tinggi. Segmen Infrastructure-as-a-Service (IaaS) menjadi motor utama dengan pertumbuhan laba kotor 109,7% menjadi Rp19,7 miliar.
Segmen managed service juga memberikan dampak positif. Laba kotor segmen ini naik 28,6% menjadi Rp4,8 miliar. Pergeseran fokus ini mendorong margin laba kotor rata-rata melonjak menjadi 35,2% dibandingkan 13,0% pada tahun lalu.
Beban operasional Perseroan naik 26,1% menjadi Rp14,4 miliar di 1Q26 dari sebelumnya Rp11,4 miliar. Hal ini menyebabkan laba usaha turun 10,2% secara tahunan menjadi Rp12,1 miliar.
Dari sisi neraca keuangan, total aset DMMX per Maret 2026 mencapai Rp861,6 miliar. Angka ini turun tipis 0,5% dibanding posisi akhir 2025 yang sebesar Rp865,7 miliar.
Jumlah liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp173,0 miliar atau turun 2,4% dari Rp177,2 miliar. Sementara itu, total ekuitas DMMX tetap stabil di angka Rp688,6 miliar.
Secara operasional, DMMX terus menjaga skala ekosistem digitalnya. Hingga kini, Perseroan mengelola 27.823 layar dan 15.141 titik iklan. Perseroan juga tengah gencar melakukan ekspansi ke sektor pendidikan dan ritel modern.
Niko Aquino, Vice President of Investor Relations PT M Cash Integrasi Tbk (induk usaha DMMX), menyampaikan komitmen perusahaan dalam transformasi digital. Salah satunya melalui partisipasi dalam Jakarta Academic Management System (JAMS) 2026.
“Inisiatif ini menandai tonggak sejarah penting dalam upaya Perusahaan untuk menembus sektor pendidikan, sebuah vertikal dengan potensi tinggi yang sejalan dengan percepatan adopsi digital di Indonesia,” ujar Niko dalam keterangan resmi dikutip Jumat (1//5/2026)
Selain pendidikan, DMMX juga memperkuat ekosistem ritel melalui solusi pembayaran digital Pojok Bayar. Melalui kolaborasi dengan Telkomsel dan Sampoerna Retail Community (SRC), DMMX menyediakan fitur transfer dana, integrasi QRIS, dan pemrosesan deposit cepat bagi UMKM.
Untuk jangka panjang, DMMX fokus memanfaatkan platform berbasis AI dan infrastruktur digital terintegrasi. Upaya ini dilakukan untuk menangkap peluang pasar baru dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham.
