STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik, khususnya Jepang dan Australia, ditutup menguat pada perdagangan Jumat (1/5/2026). Pelaku pasar memilih fokus pada kinerja laba perusahaan di Amerika Serikat (AS) yang solid, sekaligus mengesampingkan kekhawatiran eskalasi konflik Iran.
Mengutip CNBC International, mayoritas bursa utama di Asia tidak beroperasi karena libur May Day. Namun, bursa Jepang dan Australia tetap buka dan mencatat kenaikan. Sentimen positif ini sejalan dengan penguatan Wall Street yang mendorong indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencetak rekor tertinggi baru.
Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,38% dan ditutup di level 59.513,12. Sementara itu, indeks Topix menguat tipis 0,04% ke posisi 3.728,73. Penguatan terjadi di tengah laporan intervensi pemerintah Tokyo untuk menopang nilai tukar yen.
Yen Jepang terpantau menguat terhadap dolar AS ke level 156,56. Sebelumnya, mata uang tersebut sempat menembus level 160 per dolar AS pada awal pekan, yang menjadi posisi terendah dalam dua tahun terakhir di kisaran 160,72.
Bursa Australia juga mencatat kinerja positif. Indeks S&P/ASX 200 naik 0,74% ke level 8.729,8, sekaligus mengakhiri tren penurunan selama delapan sesi berturut-turut. Penguatan ditopang respons positif investor terhadap laporan keuangan perusahaan besar seperti Apple dan Caterpillar.
Di sisi lain, data ekonomi AS tercatat di bawah ekspektasi. Departemen Perdagangan AS melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 2% pada kuartal pertama, lebih rendah dari proyeksi konsensus ekonom sebesar 2,2%.
Pada pasar komoditas, harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga USD 126 per barel. Kenaikan dipicu laporan Axios terkait rencana pengarahan militer AS kepada Presiden Donald Trump mengenai langkah terhadap Iran. Namun, harga kemudian turun dan stabil di level USD 114,01 per barel.
Ketegangan geopolitik tetap menjadi perhatian. Presiden Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap tawaran perdamaian dari Teheran. Ia menilai langkah tersebut muncul karena kondisi militer Iran yang melemah.
“Karena mereka tidak memiliki militer lagi,” ujar Trump.
Sementara itu, bursa saham di Hong Kong, Korea Selatan, dan China daratan tidak beroperasi karena libur Hari Buruh. Perdagangan dijadwalkan kembali normal setelah periode libur tersebut.
