Rapor Bank Himbara Kuartal I 2026: Adu Kuat Laba, Siapa Jawara Cetak Untung Tertinggi?

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Di tengah meningkatnya risiko global akibat eskalasi konflik geopolitik, industri perbankan nasional tetap stabil. Empat bank pelat merah yang tergabung dalam Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) sukses mencetak rapor biru.

Tantangan makroekonomi tidak menyurutkan langkah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN). Keempatnya membukukan pertumbuhan laba yang impresif secara Year-on-Year (YoY).

Empat raksasa bank BUMN itu saling beradu kinerja mentereng. Pertanyaannya, siapa pencetak pertumbuhan laba bersih tertinggi secara tahunan? Gelar juara pertumbuhan kali ini dipegang oleh BBTN.

Bank Tabungan Negara (BTN) sukses memimpin laju pertumbuhan laba bersih. Angkanya melesat 22,6% YoY menjadi Rp1,11 triliun. Menyusul di posisi kedua ada Bank Mandiri. BMRI berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp15,4 triliun atau tumbuh 16,6% YoY. Di tempat ketiga, BRI mencatatkan total laba bersih sebesar Rp15,5 triliun, tumbuh 13,7% YoY. Sementara itu, BNI juga mengantongi laba bersih senilai Rp5,6 triliun naik 3,7%.

Kondisi makroekonomi kuartal pertama 2026 sangat diwarnai oleh ketidakpastian dunia. Meski begitu, keran kredit keempat bank ini tetap mengalir deras. BNI mencetak akselerasi pertumbuhan kredit tertinggi dengan angka 20,1% YoY menjadi Rp919,3 triliun. Posisi berikutnya ditempati Bank Mandiri. Penyaluran kredit BMRI melesat 17,4% YoY menyentuh angka Rp1.530 triliun. Angka ini jauh di atas rata-rata industri yang hanya 9,37%.

BRI pun tak kalah agresif menyalurkan dana. Ekspansi kredit BBRI tercatat tumbuh 13,7% YoY menjadi Rp1.562 triliun. Segmen UMKM masih menjadi andalan BRI dengan penyaluran mencapai Rp1.211 triliun. Di sisi lain, BTN konsisten menyalurkan kredit hingga mencapai Rp400,63 triliun atau naik 10,3% YoY. Di tubuh BTN, KPR subsidi masih merajai mesin penyaluran kredit.

Adu kekuatan juga terlihat pada penghimpunan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). BNI sukses memacu pertumbuhan CASA tertinggi sebesar 26,6% YoY menjadi Rp731,6 triliun. Pertumbuhan CASA BRI juga tergolong solid sebesar 13,2% YoY menuju angka Rp1.058,6 triliun. Bank Mandiri ikut mencetak CASA jumbo sebesar Rp1.201 triliun atau tumbuh 12,7% YoY. Adapun CASA BTN terus tumbuh positif 7,9% YoY menjadi Rp212,11 triliun.

Laju margin terekam jelas dari kenaikan pendapatan. BNI mencatat pertumbuhan pendapatan non-bunga atau fee-based income sebesar 12,6% YoY berkat optimalisasi digital. Pendapatan bunga bersih (NII) BNI juga tumbuh 12,1% YoY. Setali tiga uang, BTN ikut mencatat kenaikan pendapatan bunga dan bagi hasil neto sebesar 12,26% menjadi Rp4,24 triliun.

Kualitas aset bank pelat merah juga patut diacungi jempol. Bank Mandiri membukukan rekor kualitas aset paling bersih. Non-Performing Loan (NPL) Gross BMRI hanya berada di level 0,98%. BNI menyusul dengan mencetak perbaikan rasio NPL ke level 1,9%. Sementara itu, BTN mampu menjaga NPL gross di level 3,12% dan NPL net 1,95%. Di kubu BRI, kualitas aset terkendali dengan rasio Loan at Risk (LAR) yang membaik ke angka 9,7% dari sebelumnya 11,1%.

Lantas, seberapa tebal ‘bantalan’ pencadangan bank-bank ini? Bank Mandiri tampil paling siap mengantisipasi risiko. NPL Coverage Ratio BMRI dipatok sangat tebal di level 245%. Bantalan ini menjadi pelindung ampuh dari potensi gagal bayar segmen korporasi maupun UMKM. BNI turut menerapkan tingkat pencadangan memadai dengan menekan credit cost di level 1,1%. BTN juga melakukan efisiensi serupa, angka penyisihan kerugian penurunan nilai aset sukses ditekan menjadi Rp845,72 miliar.

Pada indikator permodalan dan profitabilitas, kompetisi berjalan semakin ketat. Bank Mandiri memiliki ketahanan modal kokoh lewat Capital Adequacy Ratio (CAR) 19,7% dan margin laba ciamik dengan Return on Equity (ROE) 22,1%. BRI menyusul dengan mengukuhkan Return on Assets (ROA) 2,8% dan ROE naik menjadi 18,4%. BTN terus memperkuat ketahanan modal dengan rasio CAR di posisi 19,01%. BNI pun terus menjaga struktur modal sehat lewat rasio CAR di level 18,5%. Bahkan, BNI baru saja menyerap instrumen tambahan modal AT1 senilai USD700 juta untuk melapangkan ruang ekspansi masa depan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Rugi Citatah (CTTH) Membengkak 129% di Kuartal I 2026, Penjualan Anjlok Tajam

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Citatah Tbk (CTTH) mencatat lonjakan...

Daftar 35 Orang Terkaya RI: Prajogo Pangestu Teratas, Kekayaan Rp361 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Prajogo Pangestu kembali mengukuhkan posisinya sebagai orang...

Laba Master Print (PTMR) Melonjak 154%, Tembus Rp4,25 Miliar di Kuartal I 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Master Print Tbk (PTMR) membukukan...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru