STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia anjlok lebih dari 1% pada perdagangan Jumat (1/5/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (2/5/2026) WIB. Pelemahan ini membawa emas menuju kerugian mingguan dengan besaran serupa. Kenaikan harga minyak dunia memicu kekhawatiran akan tingginya inflasi. Hal ini berpotensi membuat bank sentral enggan memangkas suku bunga.
Mengutip CNBC International, harga emas spot turun 1,1% menjadi USD 4.568,82 per ons troi. Logam mulia ini berada pada jalur pelemahan mingguan sebesar 1,2%. Di pasar berjangka AS, kontrak emas untuk pengiriman Juni turun 1,1% menjadi USD 4.579,70.
Giovanni Staunovo, analis dari UBS, memberikan pandangannya terkait kondisi pasar. Ia menyoroti hubungan antara harga emas dan minyak saat ini.
“Emas tetap berkorelasi negatif dengan minyak dalam jangka pendek, karena berdampak pada ekspektasi suku bunga,” kata Giovanni Staunovo.
Kekhawatiran pasar dipicu oleh potensi memanasnya konflik. Iran menyatakan siap merespons dengan serangan keras jika AS kembali menyerang posisinya. Negara tersebut juga kembali menegaskan klaimnya atas Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh level dua kali lipat lebih tinggi dari awal tahun. Lonjakan harga bahan bakar ini memicu ketakutan akan perlambatan ekonomi global dan tingginya inflasi.
Inflasi AS tercatat mengalami akselerasi pada bulan Maret lalu. Perang yang mengerek harga bensin menjadi penyebab utamanya. Situasi ini memperkuat ekspektasi The Fed akan menahan suku bunga hingga tahun depan.
Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BOE) juga mempertahankan suku bunga mereka pada hari Kamis. Keputusan ini sejalan dengan langkah The Fed dan Bank of Japan pada awal pekan ini.
Emas secara tradisional dianggap sebagai pelindung nilai terhadap ketidakpastian geopolitik dan inflasi. Namun, logam kuning ini bisa tertekan di lingkungan suku bunga tinggi karena kehilangan daya tariknya dibanding aset berbunga seperti Obligasi AS.
Meski demikian, Staunovo meyakini UBS tetap memiliki pandangan konstruktif untuk enam hingga 12 bulan ke depan.
“Ketidakpastian seputar pemilihan paruh waktu (AS) mendatang, ekspektasi dolar AS yang lebih lemah dari waktu ke waktu, dan penurunan suku bunga riil (seiring pemangkasan Fed) kemungkinan akan mendukung permintaan investasi bersamaan dengan permintaan bank sentral yang berkelanjutan,” jelasnya.
Staunovo bahkan memproyeksikan faktor-faktor tersebut dapat mendorong harga emas menuju USD 5.900 per ons troi pada akhir 2026.
Tren pelemahan juga merembet ke logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 0,6% menjadi USD 73,27 per ons troi. Platinum turun 1,3% menjadi USD 1.960,30, dan paladium kehilangan 0,6% ke level USD 1.515,37.
