STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak tajam pada akhir perdagangan Senin (4/5/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (5/5/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu serangan Iran terhadap Uni Emirat Arab (UEA), yang mengancam kesepakatan gencatan senjata rapuh antara Teheran dan Washington.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik hampir 6% dan ditutup di level USD 114,44 per barel. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih dari 4% dan berakhir di posisi USD 106,42 per barel di New York Mercantile Exchange.
Ketegangan di Teluk Persia kembali memanas. Kementerian Pertahanan UEA melaporkan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, serta empat pesawat tanpa awak (drone) yang diluncurkan Iran.
Serangan tersebut menyebabkan tiga orang terluka. Reuters melaporkan kebakaran besar terjadi di pusat minyak UEA di Fujairah akibat serangan drone Iran. Insiden ini menjadi eskalasi terbaru dalam konflik yang melibatkan jalur vital Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump merespons situasi ini dengan meluncurkan operasi militer bertajuk “Project Freedom”. Operasi tersebut bertujuan mengawal kapal-kapal sipil melewati Selat Hormuz, yang kini menjadi titik krisis distribusi energi global.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengerahkan kekuatan besar, termasuk kapal perusak berpeluru kendali dan lebih dari 100 pesawat tempur. Namun, laporan Axios menyebutkan operasi ini masih bersifat terbatas dan belum berupa pengawalan angkatan laut secara penuh.
Laksamana Brad Cooper menyatakan pasukan AS telah menghancurkan enam kapal kecil Iran yang mencoba mengganggu jalur pelayaran. Ia juga membantah laporan media Iran terkait kapal perang AS yang disebut terkena serangan rudal.
“Tidak ada kapal Angkatan Laut AS yang terkena serangan,” tulis CENTCOM melalui media sosial. “Pasukan AS mendukung Project Freedom dan menegakkan blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran.”
CENTCOM juga mengungkapkan dua kapal dagang berbendera AS telah berhasil melintasi selat tersebut. Meski demikian, ancaman tetap tinggi setelah sejumlah kapal komersial lainnya diserang proyektil di utara Fujairah. UEA mengecam tindakan Iran sebagai aksi pembajakan.
CEO Chevron, Mike Wirth, memperingatkan potensi krisis energi global. Ia menilai penutupan Selat Hormuz dapat memicu kelangkaan bahan bakar di berbagai negara.
“Saat orang-orang melihat realitas pasokan yang sangat ketat, ini bukan sekadar masalah harga. Pertanyaannya, apakah bahan bakar itu tersedia?” ujar Wirth dalam Konferensi Global Institut Milken.
Wirth memperkirakan ekspor minyak melalui selat tersebut membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali normal. Pembersihan ranjau laut serta penataan ulang ratusan kapal yang terjebak menjadi tantangan utama.
Senada, CEO Exxon Mobil, Darren Woods, menilai pasar belum sepenuhnya mencerminkan dampak blokade Iran. Ia memprediksi tekanan kenaikan harga minyak masih akan berlanjut.
“Gangguan terhadap pasokan minyak dan gas global belum sepenuhnya tercermin di pasar. Dampak yang lebih besar kemungkinan masih akan terjadi jika Selat Hormuz tetap tertutup,” kata Woods dalam paparan kinerja kuartal pertama Exxon.
