STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Manajemen PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akhirnya buka suara merespons surat permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Otoritas bursa sebelumnya melayangkan surat bernomor S-05205/BEI.PP3/05-2026 pada 4 Mei 2026 guna mengklarifikasi isu kepemilikan saham oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Corporate Secretary GOTO, R A Koesoemohadiani, membenarkan informasi masuknya investasi pelat merah tersebut. Danantara dipastikan telah memborong sejumlah saham GOTO melalui mekanisme bursa. Saat ini, jumlah saham milik Danantara tercatat masih kurang dari 1% dari total saham beredar.
Pihak manajemen mengapresiasi langkah strategis dari pemerintah ini.
“Perseroan menyambut baik investasi tersebut, sebagaimana juga investasi dari seluruh pemangku kepentingan lainnya, sebagai cerminan kepercayaan yang berkelanjutan terhadap fundamental usaha, kinerja, serta prospek jangka panjang Perseroan,” ujar Koesoemohadiani di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
GOTO berkomitmen selalu mematuhi ketentuan kewajiban pelaporan kepemilikan saham. Sejak Maret 2026, manajemen rutin menyampaikan informasi pemegang saham porsi 1% sampai dengan 5% kepada BEI. Sesuai aturan, informasi ini bersifat privat secara terbatas untuk otoritas bursa.
Masyarakat umum tetap bisa mengakses data publik pemegang saham di atas 1% hingga 5%. Informasi ini tersedia melalui pengumuman PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) di situs web resmi BEI.
Ramai diberitakan sebelumnya, intervensi Danantara merupakan bagian dari instruksi Presiden Prabowo Subianto. Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, sempat membeberkan masuknya Danantara ke perusahaan aplikator ojek online ini. Tujuannya untuk memastikan kebijakan potongan 8% bagi pengemudi bisa segera diimplementasikan.
Pengumuman pembelian saham ini sejatinya sudah muncul ke publik pada 1 Mei 2026 lalu. Catatan transaksi detail di pasar sekunder belum terlihat di laporan kepemilikan di atas 5%. Danantara disinyalir masuk untuk tahap awal lewat skema negosiasi privat atau menggunakan kepemilikan di bawah ambang batas wajib lapor.
Tujuan utama masuknya Danantara disinyalir untuk memegang kontrol kebijakan. Kalangan analis ramai membahas potensi pemberian Golden Share (saham emas) kepada Danantara. Hak istimewa ini bisa memberikan pemerintah hak veto atas keputusan strategis GOTO tanpa harus menjadi pemegang saham mayoritas. Kebijakan ini akan sangat berpengaruh pada penentuan tarif, skema komisi, dan kesejahteraan pengemudi.
Langkah agresif Danantara ikut memicu spekulasi pasar lebih luas. Beredar kencang isu merger raksasa antara Gojek dan Grab. Jika Danantara bertindak sebagai jembatan konsolidasi ini, entitas gabungan berpotensi menguasai pangsa pasar hingga 91% di Indonesia.
