Wall Street Pecah Rekor Lagi, Ada Sinyal Baru dari Ekonomi AS

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat sore (8/5/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (9/5/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor penutupan tertinggi baru. Reli ini dipicu laporan tenaga kerja April yang melampaui ekspektasi.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York naik tipis 12,19 poin atau 0,02% ke level 49.609,16. Indeks S&P 500 (SPX) melonjak 0,84% dan berakhir di posisi rekor 7.398,93. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat tajam 1,71% menjadi 26.247,08.

Ketiga indeks utama membukukan keuntungan mingguan. Laporan laba sektor teknologi yang positif mengangkat Nasdaq naik 4,5% sepanjang pekan. S&P 500 naik 2,3% dalam periode yang sama. Keduanya mencatatkan kenaikan mingguan enam kali berturut-turut. Ini merupakan tren kemenangan terlama sejak 2024. Dow Jones menyusul dengan kenaikan mingguan 0,2%.

Sentimen pasar mendapat dorongan dari Biro Statistik Tenaga Kerja. Lembaga ini melaporkan penambahan 115.000 pekerjaan non-pertanian bulan lalu. Angka tersebut jauh melampaui estimasi ekonom yang memperkirakan 55.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran AS tetap stabil pada level 4,3%.

Harga minyak dunia bergerak naik tipis. Ketegangan antara AS dan Iran di Selat Hormuz menjadi pemicu utamanya. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,64% menjadi USD 95,42 per barel. Presiden Donald Trump menyebut serangan terhadap target Iran sebagai sekadar “sentuhan cinta”.

Investor juga terus memantau perkembangan di Timur Tengah. Sekretaris Negara Marco Rubio memperkirakan ada kejelasan sikap Iran hari ini. Di sisi lain, optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) memicu reli saham memori. Saham Micron Technology melonjak 15% dan Sandisk melesat 16% pada perdagangan Jumat.

Keith Buchanan, Senior Portfolio Manager di Globalt Investments, menyuarakan sikap skeptis. Ia menilai pasar saat ini mengabaikan risiko geopolitik. Buchanan menyoroti tingginya valuasi saham yang didorong oleh euforia pengeluaran AI.

“Pasar memperdagangkan valuasi yang tidak menunjukkan risiko yang kami lihat di luar sana,” ujar Buchanan dalam wawancara dengan CNBC.

Buchanan mengacu pada potensi konflik Timur Tengah yang berlangsung lebih lama dari perkiraan. Hal ini dikhawatirkan memberi dampak buruk bagi konsumen. Ia melihat ekonomi saat ini sangat bergantung pada sentimen AI.

“Ini adalah kisah tentang pengeluaran AI dan efek riaknya – serta pendapatan juga – yang benar-benar menggerakkan ekonomi yang, tanpa pengeluaran dan optimisme tersebut, mungkin akan sangat lesu,” jelasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Laba Saudi Aramco Melesat 26% ke USD 33,6 Miliar di Tengah Konflik Iran

STOCKWATCH.ID, RIYADH – Raksasa energi asal Arab Saudi, Saudi...

Trump Tolak Tawaran Iran, Netanyahu Tegaskan Perang Belum Berakhir

STOCKWATCH.ID (JERUSALEM) – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan...

Trump Tolak Proposal Damai Iran, Indeks Futures Wall Street Kompak Melemah

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru