STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia merosot lebih dari 7% pada akhir perdagangan Rabu (6/5/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (7/5/2026) WIB. Penurunan tajam ini terjadi seiring munculnya optimisme kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent turun 7,91 USD atau 7,20% menjadi 101,27 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh sekitar 7%. Minyak WTI berakhir pada posisi 95,08 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Laporan Axios menyebutkan Gedung Putih meyakini penyusunan nota kesepahaman hampir rampung. Dokumen satu halaman berisi 14 poin ini disusun untuk menghentikan peperangan. Perjanjian tersebut juga akan menetapkan kerangka kerja bagi perundingan nuklir lebih rinci.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran memberikan pernyataannya kepada CNBC. Pihaknya saat ini sedang mengevaluasi proposal perdamaian dari Washington. Iran sebelumnya menegaskan hanya mau menerima kesepakatan perdamaian secara adil.
Presiden AS Donald Trump justru meragukan penyelesaian kesepakatan ini. Ia menilai persetujuan Iran atas usulan AS merupakan sebuah asumsi besar. Trump mengancam akan melanjutkan serangan militer jika Iran menolaknya.
“Jika mereka tidak setuju, pemboman dimulai, dan sayangnya, itu akan terjadi pada tingkat dan intensitas jauh lebih tinggi dari sebelumnya,” tulis Trump dalam unggahannya di media sosial.
Sebelumnya, Trump mengumumkan penghentian sementara “Project Freedom” pada hari Selasa. Proyek militer ini awalnya ditujukan untuk mengawal kapal komersial melintasi Selat Hormuz. Keputusan tersebut diambil menyusul adanya kemajuan negosiasi menuju perjanjian akhir.
Pemerintahan Trump mencatat dampak masif dari penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Sekitar 23.000 pelaut dari 87 negara kini terlantar di Teluk Persia. Hal ini memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah.
Warren Patterson, Head of Commodities Strategy di bank ING, menyoroti pentingnya pembukaan kembali jalur strategis tersebut.
“Kesepakatan yang menormalkan aliran minyak melalui Selat Hormuz sangat penting,” sebut Patterson dalam catatan risetnya.
Patterson menilai gangguan pasokan saat ini membebani persediaan minyak dunia secara signifikan.
“Sekitar 13 juta barel per hari pasokan yang terganggu sebagian besar diimbangi oleh persediaan, yang jelas menurun dengan cepat. Hal ini membuat pasar lebih rentan setiap harinya. Stok lebih ketat hanya akan membuat pasar minyak diperdagangkan dengan cara jauh lebih fluktuatif,” tambahnya.
Lonjakan biaya energi telah merusak tingkat permintaan secara global. Nicolo Bocchin, Co-Head of Fixed Income di Azimut Group, memberikan peringatan senada terkait situasi rantai pasok. Ia menilai normalisasi pengiriman dan arus perdagangan masih membutuhkan waktu berminggu-minggu meskipun jalur air berhasil dibuka kembali.
