STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Pelaku pasar sedang mencerna data inflasi Amerika Serikat (AS) bulan April. Angka inflasi ini ternyata lebih panas dari perkiraan para ekonom.
Mengutip CNBC International, investor juga menyoroti pergerakan harga minyak dunia. Konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah turut memengaruhi sentimen pasar.
Ketegangan geopolitik kembali memanas awal pekan ini. Presiden AS Donald Trump menolak secara tegas proposal balasan dari Teheran untuk mengakhiri konflik. Proposal tersebut dinilainya sama sekali tidak dapat diterima.
“Luar biasa lemah dan sangat bergantung pada bantuan hidup,” tegas Trump saat mengomentari status gencatan senjata AS dan Iran yang sudah berumur satu bulan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth ikut memberikan pernyataannya. Ia menyebut Trump tidak butuh persetujuan kongres untuk kembali menyerang Iran. Pemerintah kini telah melewati batas waktu 60 hari sesuai undang-undang wewenang perang federal.
Perhatian investor global kini juga tertuju pada pertemuan tingkat tinggi mendatang. Trump dijadwalkan segera bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Isu perdagangan diprediksi menjadi topik perbincangan utama kedua pemimpin negara tersebut.
Indeks Kospi Korea Selatan berhasil membalikkan keadaan dari pelemahan di awal sesi. Indeks utama ini ditutup naik 2,63% ke level 7.844,01. Sebaliknya, indeks Kosdaq yang berkapitalisasi kecil turun tipis 0,20% ke posisi 1.176,93.
Bursa Jepang kompak mencatatkan kinerja positif hari ini. Indeks Nikkei 225 naik 0,84% menjadi 63.272,11. Indeks Topix juga ikut menguat 1,20% ke posisi 3.919,48.
Kondisi berbeda justru terjadi di bursa saham Australia. Indeks ASX tergelincir 0,46% dan berakhir di level 8.630,40.
Pasar saham China daratan bergerak naik cukup meyakinkan. Indeks CSI 300 ditutup bertambah 1,02%. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga menguat 0,15% pada jam terakhir perdagangan. Sementara itu, Indeks Nifty 50 India ikut naik 0,56%.
