STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak tajam pada akhir perdagangan Selasa (12/5/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (13/5/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu memudarnya optimisme terhadap kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sehingga prospek pembukaan kembali Selat Hormuz semakin tidak pasti.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli melonjak 3,4% dan ditutup di level 107,77 USD per barel di London ICE Futures Exchange.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni melesat 4,2% ke posisi 102,18 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Presiden AS, Donald Trump, menolak tawaran balasan Iran atas proposal perdamaian yang diajukan Washington. Trump menilai usulan Teheran tidak dapat diterima dan memperingatkan bahwa status gencatan senjata saat ini sangat rapuh.
Kepada wartawan, Trump menyebut status gencatan senjata “sangat lemah”. Ia juga menilai usulan Iran untuk mengakhiri konflik sebagai “sampah”.
Mantan penasihat energi senior pemerintahan Presiden Joe Biden, Amos Hochstein, mengatakan konflik kedua negara kini berada dalam kondisi membeku.
“Selat-selat masih ditutup sehingga kita berada dalam kondisi tidak ada perang, tidak ada minyak, tidak ada selat,” ujar Hochstein.
Menurut dia, peluang tercapainya terobosan dalam waktu dekat cukup kecil karena Trump tengah bersiap menuju China untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Hochstein memperkirakan harga minyak akan bertahan tinggi di kisaran 90 USD hingga 100 USD per barel sampai 2027.
Mantan Panglima Tertinggi Sekutu NATO, James Stavridis, menilai pemerintah AS memiliki tiga opsi, yakni meninggalkan konflik, memulai pengeboman besar-besaran, atau membuka paksa Selat Hormuz.
Menurut Stavridis, opsi pembukaan paksa Selat Hormuz menjadi skenario yang paling mungkin terjadi saat ini. Namun, langkah tersebut membutuhkan pengerahan kekuatan angkatan laut dalam jumlah besar dengan biaya sekitar satu miliar USD per pekan.
Ketegangan berkepanjangan ini terus memberi tekanan pada pasar energi global. Sejak perang melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, harga minyak WTI dan Brent telah melonjak lebih dari 45%.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, turut memperingatkan dampak serius apabila pembukaan jalur perdagangan tersebut terus tertunda.
“Jika Selat Hormuz dibuka hari ini, pasar masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali seimbang. Jika pembukaannya tertunda beberapa minggu lagi, normalisasi bisa berlangsung hingga 2027,” kata Amin Nasser.
Sementara itu, Citigroup dalam catatannya menyebut harga minyak masih akan bergerak fluktuatif. Harga berpotensi naik lebih tinggi apabila proses negosiasi AS-Iran tetap mengalami kebuntuan.
Investor kini menantikan hasil pertemuan Trump dengan Presiden China, Xi Jinping, untuk melihat kemungkinan munculnya tekanan diplomatik baru terhadap Iran.
