STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 2% pada akhir perdagangan Rabu (13/5/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (14/5/2026) WIB.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent turun sekitar 2% menjadi 105,63 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh sekitar 1%. Minyak WTI berakhir pada posisi 101,02 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Penurunan harga minyak terjadi di tengah kehati-hatian investor. Pelaku pasar sedang memantau ketat gencatan senjata yang rapuh di Timur Tengah. Mereka juga menantikan pertemuan tingkat tinggi di Beijing. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping.
Harga kedua acuan minyak ini masih berada di kisaran 100 USD per barel. Kondisi ini berlangsung sejak perang AS-Israel terhadap Iran meletus pada akhir Februari. Konflik tersebut berujung pada penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.
Analis pasar senior di Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menyoroti sensitivitas pasar saat ini.
“Pasar tetap sangat reaktif terhadap setiap pembaruan dari kawasan tersebut, yang berarti ayunan tajam kemungkinan akan terus berlanjut. Setiap eskalasi lebih lanjut atau ancaman langsung terhadap aliran pasokan dapat dengan cepat menghidupkan kembali momentum kenaikan yang kuat di Brent dan WTI,” ungkap Priyanka Sachdeva.
Badan Energi Internasional (IEA) memberikan sentimen penahan penurunan harga. IEA menyebut pasokan minyak global tidak akan memenuhi total permintaan tahun ini. Perang di Timur Tengah telah mengacaukan produksi minyak di kawasan tersebut.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengamini laporan dari IEA tersebut.
“Laporan pasar minyak IEA terbaru baru saja menunjukkan besarnya gangguan dengan penurunan persediaan minyak yang besar selama dua bulan terakhir,” sebut Giovanni Staunovo.
IEA juga mencatat penurunan produksi minyak mentah Rusia. Produksi susut sebanyak 460.000 barel per hari pada bulan April dibandingkan tahun lalu menjadi sekitar 8,8 juta barel per hari. Penurunan ini dipicu oleh serangan pesawat tak berawak Ukraina ke fasilitas energi. Sementara itu, OPEC merevisi turun proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk tahun 2026.
Trump telah tiba di Beijing pada hari Rabu. Sehari sebelumnya, ia mengaku tidak membutuhkan bantuan China untuk mengakhiri perang. Sikap ini muncul saat prospek kesepakatan damai permanen memudar. Iran juga semakin memperketat kendalinya atas Selat Hormuz.
China sejauh ini masih menjadi pembeli terbesar minyak Iran. Transaksi ini tetap berjalan di tengah tekanan sanksi dari pemerintahan Trump. Pertemuan antara Trump dan Xi dijadwalkan berlangsung pada hari Kamis dan Jumat.
Analis Rystad, Janiv Shah, memproyeksikan proses penyeimbangan pasar akan memakan waktu.
“Lama waktu penyeimbangan kembali pasar agak seimbang tergantung pada putaran negosiasi terbaru, tetapi tidak mungkin kurang dari beberapa bulan. Kemungkinan akan ada beberapa pengetatan struktural setidaknya untuk sisa tahun ini,” ujar Janiv Shah.
Perang Timur Tengah mulai berdampak pada ekonomi AS. Harga minyak yang tinggi mendorong kenaikan biaya bahan bakar. Para ekonom memprediksi efek lanjutan akan terasa dalam beberapa bulan ke depan.
Inflasi konsumen AS bulan April melonjak tajam untuk bulan kedua berturut-turut. Kondisi ini memperkuat ekspektasi Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan. Suku bunga tinggi dapat meningkatkan biaya pinjaman dan menekan permintaan minyak.
Laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan penurunan stok minyak mentah. Persediaan menyusut 4,3 juta barel pada pekan lalu. Angka ini lebih besar dari perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memprediksi penurunan 2,1 juta barel.
Stok bensin juga turun sebanyak 4,1 juta barel. Perkiraan awal analis hanya memproyeksikan penurunan 2,9 juta barel. Di sisi lain, persediaan sulingan seperti solar dan minyak pemanas justru naik 0,2 juta barel.
