STOCKWATCH.ID (ANKARA) – Harga minyak dunia melonjak tajam lebih dari 4% pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026) waktu setempat atau Kamis (9/7/2026). Kenaikan ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan membom Iran. Trump juga berencana memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Republik Islam tersebut.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent melonjak 5,2% atau berada di level 78,02 USD per barel. Harga minyak acuan global ini berakhir di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 4,4%. Minyak WTI berakhir pada posisi 73,52 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Lonjakan harga terjadi setelah Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan dalam KTT NATO di Turki. Langkah ini merupakan balasan atas serangan terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Trump mengancam akan membom dan memblokade Iran kembali pada Rabu waktu setempat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di pasar minyak akan gangguan ekspor melalui Selat Hormuz. Padahal, pengiriman minyak baru saja mulai pulih.
Namun, harga sempat sedikit melandai dari level tertingginya. Kondisi ini terjadi setelah Trump menyebut tidak yakin Iran dan AS akan kembali ke perang skala penuh.
“Saya tidak berpikir itu akan dimulai lagi,” ujar Trump. Ia menilai situasi tersebut akan selesai dalam waktu singkat. “Mereka memukul beberapa kapal dan jadi kami memukul mereka jauh lebih keras. Ketika mereka memukul, kami memukul 10 kali lebih keras,” lanjutnya.
Trump memprediksi harga minyak akan segera turun karena kapal tanker terus keluar dari Selat Hormuz. Ia menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di ibu kota Turki, Ankara.
“Harga akan naik sedikit dan ini akan berakhir dengan sangat cepat,” kata Trump. Ia menjelaskan saat ini pasar sedang mengalami kelebihan pasokan. “Kita mengalami banjir minyak sekarang karena kita mengeluarkan semua kapal itu dari selat dan harganya akan turun,” tambahnya.
Sementara itu, pihak Iran memberikan peringatan balasan melalui media pemerintah PressTV. Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz. Mereka menyatakan akan merespons serangan baru dengan kekuatan yang luar biasa.
Komando Pusat AS melaporkan telah membom lebih dari 80 target di Iran pada malam sebelumnya. Serangan tersebut menghancurkan sistem pertahanan udara dan jaringan komando. Fasilitas radar serta kemampuan rudal anti-kapal Iran juga turut menjadi sasaran.
Di sisi lain, Departemen Keuangan AS membatalkan izin bagi Iran untuk menjual minyak pada Selasa lalu. Pembatalan izin ini dinilai para kritikus sebagai pencabutan konsesi besar AS terhadap Iran dalam kesepakatan sementara.
Kementerian Luar Negeri Iran melabeli serangan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap Nota Kesepahaman. Dokumen tersebut merupakan kesepakatan antara Washington dan Teheran bulan lalu untuk mengakhiri konflik.
Eskalasi ketegangan ini memuncak setelah tiga kapal diserang di dekat Selat Hormuz pada Selasa. Pusat Informasi Maritim Gabungan pimpinan AS kini menaikkan penilaian ancaman bagi kapal yang melintas menjadi “parah”. Mereka memperingatkan kemungkinan adanya aksi permusuhan lebih lanjut oleh Iran

