spot_img

Kesepakatan AS-Iran Berakhir, Harga Emas Dunia Tergelincir

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melemah pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (9/7/2026) WIB.  Penurunan ini menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai berakhirnya kesepakatan dengan Iran.  Ketegangan geopolitik tersebut justru memicu kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi.

Mengutip CNBC, harga emas spot turun 0,9% ke level 4.068,09 USD per ons troi. Logam mulia ini sempat menyentuh level terendah sejak 2 Juli pada sesi tersebut. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus merosot 1,5% menjadi 4.095,30 USD per ons troi.

Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Trump menyebut kesepakatan gencatan senjata telah berakhir.  Iran menyatakan telah menargetkan situs militer AS di Bahrain dan Kuwait. Aksi ini merupakan balasan atas serangan pasukan AS terhadap sasaran Iran sebelumnya.

Ketegangan tersebut membuat harga minyak mentah melonjak lebih dari 5%. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan suku bunga untuk menahan tekanan harga.

David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, memberikan penjelasannya.  Ia menyebut eskalasi ketegangan AS-Iran menjadi pemicu utama pergerakan pasar.

“Faktor utama pergerakan hari ini adalah peningkatan eskalasi ketegangan antara AS dan Iran, dengan kemungkinan gencatan senjata berakhir, kita melihat aset berisiko di seluruh papan diperdagangkan lebih rendah, termasuk emas,” ujar David Meger.

Emas sering dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi. Namun, daya tarik logam mulia cenderung memudar dalam lingkungan suku bunga tinggi. Hal ini terjadi karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil atau bunga.

Di saat bersamaan, risalah pertemuan The Fed bulan Juni menunjukkan para pejabat bank sentral terbelah.  Mereka memiliki pandangan berbeda mengenai arah suku bunga di masa depan.  Beberapa pejabat melihat inflasi bisa mereda, sementara yang lain melihat tekanan harga tetap tinggi.

Meger menilai kondisi pasar saat ini masih penuh ketidakpastian.  Pelaku pasar terus mencari informasi tambahan terkait kebijakan moneter AS ke depan.

“Ada sedikit lingkungan yang suram saat ini terkait jalur suku bunga di masa depan, dengan pasar mencari segala jenis informasi yang akan membawa pada kejelasan terkait jalur kenaikan suku bunga ke depan,” tambah Meger.

Data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga AS pada September kini mencapai 67%. Angka ini naik dibandingkan posisi Selasa yang sebesar 62%.

Bank of America turut menyesuaikan proyeksinya terhadap logam mulia.  Mereka memangkas rata-rata perkiraan harga emas tahun 2026 sebesar 14% menjadi 4.360 USD karena sikap The Fed yang lebih hawkish.  Meski demikian, level 5.000 USD dinilai masih mungkin tercapai setelah siklus pengetatan berakhir.

Pelemahan juga merembet ke logam mulia lainnya.  Harga perak spot jatuh 2,42% menjadi 58,5681 USD per ons troi. Platinum merosot 3,6% ke posisi 1.582,13 USD. Sementara itu, paladium terkoreksi cukup dalam sebesar 4,3% ke level 1.221,97 USD.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Tensi AS-Iran Memanas Lagi, Kontrak Berjangka Saham Wall Street Tergelincir

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika...

Trump Ancam Bom dan Blokade Iran, Harga Minyak Dunia Meroket Lebih dari 4%

STOCKWATCH.ID (ANKARA) – Harga minyak dunia melonjak tajam lebih...

Futures Wall Street Lesu, Investor Cermati Konflik Timur Tengah dan Risalah The Fed

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) bursa...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru