STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Harga minyak mentah dunia merosot lebih dari 2% pada penutupan perdagangan hari Jumat (8/11/2024) waktu setempat atau Sabtu pagi (9/11/2024) WIB. Penurunan ini terjadi setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat Badai Rafael yang melanda Teluk Meksiko mereda. Selain itu, stimulus ekonomi terbaru dari China juga tidak mampu memberi dorongan bagi pasar minyak.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2024 turun 2,74%, atau sekitar US$1,98, menjadi US$70,38 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Adapun harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari 2025 tergelincir 2,33%, atau US$1,76, mencapai US$73,87 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Pada Kamis, sekitar 22% dari produksi minyak di Teluk Meksiko dihentikan sementara untuk mengantisipasi dampak dari Badai Rafael. Hal ini sempat membuat harga minyak naik lebih dari 1%. Namun, peramalan cuaca terbaru menunjukkan bahwa badai tersebut mulai mereda, dan kekhawatiran pun berkurang.
Menurut Alex Hodes, analis dari StoneX, ancaman gangguan pasokan akibat Badai Rafael sudah berkurang. “Badai ini sekarang bergerak ke pusat Teluk Meksiko dan diperkirakan akan berputar di sana selama lima hari ke depan,” kata Hodes. Ia juga menambahkan, “Badai Rafael telah melemah menjadi Badai Kategori 2 setelah sebelumnya melanda Kuba.”
Di sisi lain, stimulus ekonomi dari China gagal memberikan pengaruh besar terhadap pasar minyak. China, sebagai pengimpor minyak terbesar dunia, mengumumkan paket kebijakan untuk membantu pemerintah daerah mengatasi masalah utang. Namun, kebijakan ini tidak banyak mengubah permintaan minyak. Giovanni Staunovo, analis UBS, mengatakan pasar kecewa karena stimulus ini tidak cukup kuat untuk mendorong permintaan. “Beberapa pelaku pasar mungkin mengharapkan stimulus yang lebih besar dari China,” ungkap Staunovo.
Deflasi yang terus melanda ekonomi China juga menjadi faktor lain yang menekan harga minyak. Data menunjukkan impor minyak mentah China turun enam bulan berturut-turut pada bulan Oktober.
Meski harga minyak turun pada hari Jumat, pasar masih mendapat sedikit dorongan. Sanksi yang lebih ketat terhadap Iran dan Venezuela diperkirakan dapat mengurangi pasokan minyak global. Selain itu, pemangkasan suku bunga Federal Reserve AS sebesar 0,25% pada Kamis lalu turut memberikan sentimen positif bagi pasar minyak.
“Meskipun harga turun hari ini, kami masih melihat potensi kenaikan harga minyak sekitar 1% dalam sepekan,” kata John Evans, analis PVM. Ia juga menambahkan, “Harga minyak bisa naik dalam jangka pendek jika Presiden terpilih Donald Trump segera mengambil tindakan tegas terhadap sanksi minyak.”
