Akibat transaksi ini, porsi kepemilikan Alfamart di ARA berubah. Awalnya Alfamart menguasai 100% saham. Kini, Alfamart memegang 49% dan GWI resmi menjadi pemegang saham mayoritas dengan porsi 51%.
Dana yang didapat dari GWI tidak didiamkan begitu saja. ARA langsung menggunakan uang tersebut untuk memborong saham di dua negara. Pertama, ARA membeli 10% saham Alfamart Trading Philippines Inc. (ATP) dari GWI senilai USD 10,53 juta atau Rp189,22 miliar.
Kedua, ARA mengakuisisi 70,02% saham Alfamart Trading Bangladesh Limited (ATB) dari GWI. Nilai pembeliannya mencapai BDT 220,75 juta atau sekitar Rp32,13 miliar.
Sekretaris Perusahaan AMRT, Tomin Widian, menjelaskan langkah strategis ini diambil untuk memperkuat posisi perusahaan di pasar global. Integrasi ini bertujuan menciptakan efisiensi kerja. Struktur modal ARA juga menjadi lebih kuat dengan masuknya mitra strategis.
“Transaksi ini diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek-proyek strategis di pasar global. Hal ini akan memberikan kontribusi positif bagi citra dan portofolio Perseroan di mata dunia,” ujar Tomin dalam keterbukaan informasi di laman BEI, Rabu (17/6/2026).
Selain itu, Alfamart ingin lebih mandiri dalam mengelola bisnis internasionalnya. Dengan struktur baru ini, Alfamart di Indonesia bisa tetap fokus pada pasar domestik. Namun, mereka tetap mendapat untung dari pertumbuhan bisnis di luar negeri.
Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Kusnanto & Rekan turut memberikan penilaian. Mereka menyatakan seluruh rangkaian transaksi ini adalah wajar. Berdasarkan analisis, nilai transaksi yang disepakati memberikan potensi keuntungan bagi Alfamart.
Willy D. Kusnanto, Pimpinan Rekan KJPP KR, menyatakan bahwa nilai pasar 100% saham ARA per 31 Desember 2025 mencapai USD 36,95 juta. Sementara itu, nilai 10% saham ATP dihargai USD 11,01 juta dan 70,02% saham ATB senilai BDT 229,38 juta.
Manajemen Alfamart optimistis masa depan ritel di Filipina dan Bangladesh sangat menjanjikan. Urbanisasi yang tinggi dan pertumbuhan kelas menengah menjadi pendorong utama. Alfamart ingin memastikan mereka menjadi pemain utama dalam persaingan ritel modern di kawasan Asia tersebut.

