STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik jatuh tajam pada penutupan perdagangan Senin (30/3/2026). Para investor merespons negatif perang di Timur Tengah yang kini memasuki minggu kelima. Konflik terus memanas meski berbagai upaya diplomasi telah dilakukan.
Mengutip CNBC International, indeks Kospi Korea Selatan memimpin pelemahan dengan anjlok 2,97% ke level 5.277,30. Indeks ini sempat terjun bebas lebih dari 5% sebelum akhirnya sedikit pulih di akhir sesi. Sementara itu, indeks Kosdaq yang mencakup saham berkapitalisasi kecil turun sekitar 3% ke posisi 1.107,05.
Bursa Jepang juga mencatatkan kinerja buruk. Indeks Nikkei 225 jatuh 2,79% dan berakhir di posisi 51.885,85. Indeks Topix yang lebih luas juga kehilangan 2,94% menjadi 3.542,34.
Para pembuat kebijakan Bank of Japan (BOJ) mulai mendiskusikan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut. Kenaikan harga minyak akibat konflik tersebut menambah tekanan inflasi di Jepang. Salah satu anggota BOJ mengisyaratkan pengetatan kebijakan moneter mungkin perlu dipercepat.
“Ada risiko BOJ mungkin secara tidak sengaja tertinggal dari kurva,” catat salah satu pembuat kebijakan dalam ringkasan opini yang dirilis Senin. Hal ini dipicu oleh efek putaran kedua dan kenaikan inflasi dasar akibat perkembangan luar negeri yang lebih mungkin muncul.
Bursa Australia ikut ditutup di zona merah. Indeks S&P/ASX 200 melemah 0,65% ke level 8.461. Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese mengumumkan pemotongan pajak bahan bakar bensin dan diesel hingga setengahnya selama tiga bulan.
Langkah tersebut diambil untuk meringankan beban biaya masyarakat akibat konflik AS-Israel dengan Iran. Penurunan pajak ini diharapkan menurunkan harga di pompa bensin sebesar 26,3 sen Australia atau sekitar 18 sen USD per liter.
Pasar saham China dan Hong Kong juga tertekan. Indeks Hang Seng di Hong Kong kehilangan 0,81% ke posisi 24.750,79. Sementara itu, indeks CSI 300 turun 0,24% ke level 4.491,95.
Eskalasi perang meningkat setelah gerakan Houthi di Yaman menembakkan rudal ke Israel pada Sabtu lalu. Ini merupakan keterlibatan langsung pertama mereka dalam perang melawan Iran. Juru bicara Houthi Yahya Saree menyebut serangan rudal balistik tersebut menyasar lokasi militer sensitif Israel.
Ketegangan ini mendorong harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,58% menjadi USD 102,19 per barel. Konflik ini bermula sejak serangan udara AS dan Israel ke sasaran Iran pada 28 Februari lalu.
