STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan kondisi ekonomi nasional. Gejolak nilai tukar mata uang terhadap US$ belakangan ini dinilai tidak akan membawa Indonesia kembali ke masa krisis moneter 1998.
Pemerintah optimistis fondasi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kokoh. Kondisi fundamental ekonomi dinilai sangat berbeda dibanding situasi 26 tahun lalu, ketika pemerintah melakukan kesalahan besar dalam pengambilan kebijakan.
“Ruang untuk kita mengulangin krisis ‘98 itu amat kecil,” ujar Purbaya dalam wawancara di program Kabar Petang TV One, Kamis (14/5/2026).
Pada 1998, kebijakan fiskal Indonesia sangat ketat. Tingkat suku bunga bahkan sempat melonjak hingga 60% sampai 70%. Kondisi saat ini justru berbanding terbalik. Pemerintah menerapkan kebijakan fiskal ekspansif dengan suku bunga yang tetap berada pada level wajar.
Purbaya menjelaskan, krisis 1998 berlangsung selama sekitar satu tahun sebelum memicu gejolak sosial dan politik. Krisis bermula pada 1997 dan berujung pada kontraksi ekonomi berkepanjangan.
Saat ini, Indonesia justru mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61% di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. Pemerintah berkomitmen menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas level 5%.
“Kita sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5%, dan itu akan kita jaga terus,” tegasnya.
Menurut Purbaya, tekanan global diperkirakan mulai mereda dalam waktu dekat. Ia menilai tensi politik di Amerika Serikat akan mempengaruhi arah kebijakan luar negeri negara tersebut.
Menjelang pemilu tengah paruh waktu, Amerika Serikat diperkirakan akan mengurangi keterlibatan dalam konflik di Timur Tengah. Kondisi itu diyakini dapat membantu meredakan tekanan terhadap ekonomi global sebelum Oktober mendatang.
Prospek ekonomi Indonesia pun dinilai masih sangat terbuka. Pemerintah saat ini fokus menjaga permintaan domestik tetap stabil agar pertumbuhan ekonomi terus terjaga.
Purbaya menyebut program-program Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan dampak positif terhadap ekonomi nasional. Berbagai kebijakan strategis pemerintah dinilai memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.
Ia juga menegaskan Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi berbagai krisis global. Pengalaman menghadapi krisis 2008-2009, gejolak 2015, hingga pandemi COVID-19 pada 2020 menjadi bukti ketahanan ekonomi nasional.
Menurutnya, Indonesia mampu bertahan karena tidak lagi mengikuti resep kebijakan IMF seperti pada 1998 yang dinilai gagal mengatasi krisis saat itu.
“Indonesia sudah punya pengalaman mengatasi krisis dan ilmunya nggak hilang,” kata Purbaya.
Ia memastikan pengalaman tersebut akan terus digunakan untuk menjaga ekonomi tetap tumbuh sehat dan ekspansif. Pemerintah juga optimistis nilai tukar rupiah akan bergerak membaik secara bertahap.
Terkait tugas khusus dari Presiden Prabowo Subianto, Purbaya mengatakan fokus utama pemerintah dalam jangka pendek adalah menjaga pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, stabilitas sosial dan politik juga menjadi prioritas melalui berbagai instrumen kebijakan di Kementerian Keuangan.
Seluruh jajaran kementerian, lanjut Purbaya, berkomitmen menjalankan arahan Presiden secara konsisten. Fokus utama pemerintah saat ini adalah bekerja dan memastikan target ekonomi nasional dapat tercapai.
