STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Tim analis ISEAI dalam laporan bertajuk ISEAI Working Paper–33 menyoroti anomali pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Emiten teknologi ini dinilai menghadapi risiko reverse bubble atau gelembung terbalik di tengah kebijakan baru pemerintah.
Pada perdagangan 30 April 2026, saham GOTO ditutup melemah 1,82% ke level Rp54 per lembar. Posisi ini mencerminkan penurunan tajam sejak penawaran umum perdana (IPO) pada 2022 di harga Rp338. Kapitalisasi pasar GOTO kini menyusut menjadi Rp61,59 triliun.
Laporan ISEAI yang dirilis Minggu (3/5/2026) menyebut harga saham saat ini mencerminkan revaluasi fundamental setelah pecahnya gelembung ekspektasi masa lalu. Pasar modal menunjukkan sikap skeptis terhadap keberlanjutan laba perusahaan, terutama akibat ancaman regulasi potongan aplikator maksimal 8% dalam Perpres Nomor 27 Tahun 2026.
Regulasi tersebut dinilai berpotensi menekan margin perusahaan secara signifikan. Padahal, GOTO baru saja mencatatkan perbaikan kinerja dengan laba bersih Rp171 miliar pada kuartal I 2026, setelah sebelumnya membukukan kerugian besar selama beberapa tahun.
ISEAI menilai kondisi ini memicu risiko gelembung terbalik pada valuasi saham. Sentimen negatif dari kebijakan pemerintah membuat harga saham tertekan jauh di bawah nilai intrinsiknya.
Saat ini, valuasi GOTO berada di kisaran 2,26 kali price-to-book value (PBV). Angka tersebut tergolong rendah untuk perusahaan teknologi, mencerminkan bahwa pasar hanya menghargai dua kali nilai aset bersih perusahaan.
Struktur kepemilikan saham GOTO masih didominasi publik sebesar 76,61%. Sementara itu, investor institusi global seperti SoftBank melalui SVF GT Subco menguasai 7,65% saham, dan Alibaba melalui Taobao China Holding sebesar 7,43%.
Kebijakan komisi 8% menempatkan bisnis ride-hailing dalam tekanan. Margin tersebut dinilai belum memadai untuk menutup biaya operasional teknologi sekaligus memenuhi kewajiban sosial bagi pengemudi.
ISEAI memandang peluang kenaikan harga saham masih terbatas selama ketidakpastian regulasi berlanjut. Harga saat ini lebih mencerminkan koreksi fundamental pasca euforia IPO.
Secara historis, saham GOTO sempat menyentuh level tertinggi tahun berjalan di Rp69 pada 2 Januari 2026. Namun, harga terus terkoreksi hingga mendekati level terendah 52 minggu di kisaran Rp50.
Volume perdagangan saham GOTO mencapai 9,26 miliar saham hingga akhir April 2026. Tingginya porsi kepemilikan publik membuat pergerakan saham sangat sensitif terhadap isu kebijakan, khususnya terkait perlindungan pekerja transportasi daring.
Intervensi negara melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) diharapkan dapat menjadi katalis positif. Namun, tanpa efisiensi biaya pemasaran dan integrasi infrastruktur, potensi investasi negara di GOTO tetap berisiko mengalami capital loss yang signifikan.
