Harapan Damai AS-Iran Muncul, Wall Street Kompak Cetak Rekor Baru

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu sore (6/5/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (7/5/2026) WIB. Tiga indeks utama melanjutkan tren kenaikan dari sesi sebelumnya. Investor merespons positif kabar kemajuan perundingan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 612,34 poin atau 1,24% ke level 49.910,59. Indeks S&P 500 (SPX) juga naik 1,46% dan berakhir di posisi 7.365,12. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 2,02% menjadi 25.838,94. Indeks S&P 500 dan Nasdaq sukses mencetak rekor tertinggi baru.

Kenaikan indeks didorong oleh lonjakan harga saham sektor produsen chip. Saham Advanced Micro Devices (AMD) melesat 18,6% setelah perusahaan merilis prospek positif untuk kuartal kedua. Kinerja AMD yang melampaui ekspektasi pasar ikut mengangkat sektor semikonduktor secara keseluruhan. Saham VanEck Semiconductor ETF (SMH) melonjak 5% dan Intel naik 4,5%.

Sentimen pasar membaik menyusul laporan Axios mengenai rencana kesepakatan untuk mengakhiri konflik AS-Iran. Perjanjian tersebut dikabarkan mencakup moratorium pengayaan nuklir. Juru bicara kementerian luar negeri Iran menyampaikan kepada CNBC, pihaknya sedang mengevaluasi proposal dari pihak AS.

Meski demikian, Presiden Donald Trump memberikan catatan terbaru melalui akun Truth Social miliknya. Trump menilai kesepakatan tersebut belum pasti. Ia menyebutnya sebuah asumsi besar jika Iran menyetujui usulan AS.

“Jika mereka tidak setuju, pemboman dimulai, dan sayangnya, itu akan terjadi pada tingkat dan intensitas jauh lebih tinggi dari sebelumnya,” tulis Trump dalam unggahannya.

Trump juga mengumumkan penundaan “Project Freedom”. Ini merupakan rencana AS untuk memandu kapal-kapal keluar dari Selat Hormuz. Langkah ini diambil karena adanya kemajuan besar menuju perjanjian akhir dan menyeluruh dengan perwakilan Iran.

Di sisi lain, harga minyak dunia merosot tajam seiring harapan berakhirnya perang. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) anjlok 7,03% ke posisi USD 95,08 per barel. Sementara itu, minyak Brent turun 7,83% menjadi USD 101,27 per barel.

Bill Northey, Investment Director di U.S. Bank Asset Management Group, menyampaikan analisanya terkait situasi pasar. Ia melihat potensi pemulihan ekonomi di wilayah-wilayah yang paling terdampak konflik.

“Jika kita benar-benar mencapai titik waktu di mana permusuhan mulai melambat atau, faktanya, berhenti secara keseluruhan, dan kita melihat pembukaan kembali Selat Hormuz, ini akan memungkinkan beberapa wilayah paling sensitif secara ekonomi dan paling terpukul seperti Asia Tenggara, seperti Eropa, berpotensi menghindari kesulitan ekonomi mereka sendiri,” ujar Northey.

Menurut Northey, kondisi tersebut menjadi landasan bagi kebangkitan kembali pasar ekuitas. Penguatan Wall Street pada hari Rabu sekaligus memperpanjang momentum positif dari perdagangan hari Selasa.

- Advertisement -

Artikel Terkait

S&P 500 Cetak Rekor, Futures Saham AS Stagnan Pantau Krisis Iran

STOCKWATCH.ID, New York –Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat...

Trump Ancam Bom Iran Lebih Dahsyat Jika Kesepakatan Damai Gagal

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald...

Sinyal Damai Timur Tengah Berhembus, Bursa Saham Eropa Kompak Melaju Hijau

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru