STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada kuartal pertama 2026. Perusahaan tambang emas Grup Salim ini membukukan pertumbuhan laba bersih dan pendapatan di tengah kenaikan harga emas dunia.
Analis KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana, memberikan rekomendasi beli untuk saham BRMS. Ia menetapkan target harga pada level Rp1.060 per saham. Target ini mencerminkan potensi kenaikan atau upside sebesar 35,9% dari harga saat ini Rp780 per saham.
Berdasarkan laporan risetnya, BRMS meraup pendapatan sebesar USD 69 juta pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut tumbuh 9,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (YoY). Kenaikan harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP) menjadi pendorong utama.
Harga jual emas BRMS melonjak 60,6% YoY menjadi USD 4.512 per oz. Lonjakan harga ini menutupi penurunan volume penjualan emas sebesar 32,5% YoY menjadi 14,8 ribu oz. Penurunan volume terjadi akibat aktivitas operasional berupa pushback di tambang River Reef milik Citra Palu Minerals (CPM).
Kinerja positif ini berlanjut ke laba bersih. BRMS mencetak laba bersih sebesar USD 18 juta. Nilai tersebut meningkat 21,6% secara tahunan.
“Katalis utama termasuk ekspansi pabrik CIL pertama, pengembangan tambang bawah tanah, dan eksplorasi berkelanjutan diharapkan mendukung lintasan pertumbuhan BRMS,” ujar Ashalia Fitri Yuliana dalam risetnya, dikutip Kamis (7/5/2026).
Ashalia memaparkan beberapa agenda besar perusahaan yang akan menjadi mesin pertumbuhan. Aktivitas pushback di tambang River Reef dijadwalkan selesai pada Mei atau Juni 2026. Selain itu, perluasan kapasitas pabrik CIL pertama dari 500 menjadi 2.000 ton per hari ditargetkan rampung pada Oktober 2026.
Ekspansi tersebut diproyeksikan mendorong produksi emas BRMS mencapai 76 ribu oz pada tahun fiskal 2026. Perusahaan juga menyiapkan proyek tambang bawah tanah yang ditargetkan selesai pada kuartal ketiga 2027. Proyek ini diharapkan menghasilkan kadar emas yang lebih tinggi, yaitu 3,5 hingga 4,9 gram per ton.
KB Valbury Sekuritas turut merevisi asumsi harga emas untuk periode 2026 hingga 2028. Analis memperkirakan harga emas berada pada rentang USD 4.800 sampai USD 4.900 per oz. Sementara itu, harga perak diproyeksikan mencapai USD 70 hingga USD 73 per oz.
Hingga akhir 2026, pendapatan BRMS diperkirakan mencapai USD 365 juta dengan laba bersih USD 92 juta. EBITDA perusahaan juga diprediksi menyentuh USD 177 juta.
BRMS saat ini memiliki cadangan emas terbesar kedua di antara perusahaan publik di Indonesia. Total cadangan sumber daya multi-mineral perusahaan mencapai 171 juta ton. Lokasi produksinya tersebar di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.
Pemegang saham BRMS terdiri atas masyarakat sebesar 51,6%. Emirates Tarian Global Ventures SPC memegang 25,1%. Sisanya dimiliki oleh Glastrust (Singapore) Ltd 7,6%, Sugiman Halim 7,5%, CGS International Sekuritas 5,2%, dan PT Bumi Resources Tbk 3,1%.
“Kami mempertahankan peringkat beli dengan target harga Rp1.060 per saham yang mencerminkan potensi kenaikan 35,9%,” tegas Ashalia.
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.
