PBID Ungkap Strategi Jaga Laba di Tengah Fluktuasi Harga Plastik dan Pelemahan Rupiah

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) menggelar Public Expose Tahunan pada Jumat, 8 Mei 2026. Emiten produsen plastik ini memaparkan kinerja keuangan tahun buku 2025 sekaligus target strategis perseroan untuk tahun 2026.

Penjualan PBID sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp5,19 triliun. Angka tersebut turun tipis 0,95% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama PBID, Vicky Taslim menjelaskan, penurunan penjualan dipicu oleh koreksi harga biji plastik global sepanjang tahun lalu. Meski demikian, perseroan tetap mampu menjaga stabilitas laba secara konsisten.

Memasuki 2026, industri petrokimia menghadapi tekanan akibat tensi geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini berdampak pada fluktuasi harga bahan baku nafta di pasar internasional.

Vicky mengatakan, manajemen telah menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi potensi krisis bahan baku. Strategi tersebut dilakukan melalui diversifikasi pemasok dengan menyiapkan empat hingga lima supplier cadangan agar tidak bergantung pada satu produsen.

“Kami menjaga level inventaris yang aman untuk menghindari panic buying saat harga melonjak akibat geopolitik,” ujar Vicky Taslim dikutip Minggu (10/5/2026).

Perseroan juga terus menekan biaya melalui pembelian dalam volume besar. Langkah tersebut dinilai efektif untuk memperoleh harga terbaik sekaligus melakukan average down ketika harga pasar berfluktuasi.

Dari sisi inovasi produk, PBID memastikan ketersediaan kemasan dalam berbagai ukuran, termasuk ukuran kecil untuk sambal bakmi. Perseroan juga menegaskan seluruh produknya telah memenuhi standar keamanan pangan.

“Seluruh produk kami telah tersertifikasi food grade, yang artinya sangat aman untuk bersentuhan langsung dengan makanan,” kata Vicky Taslim.

Terkait ketahanan panas, manajemen merekomendasikan penggunaan plastik jenis HD untuk makanan bersuhu tinggi hingga 80 derajat Celsius. Produk tersebut diklaim memiliki daya tahan panas lebih baik dan bebas kandungan minyak berbahaya.

PBID juga mengantisipasi pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Mitigasi dilakukan melalui porsi utang valas yang rendah serta penerapan mekanisme harga berbasis dolar atau dollar-based pricing.

Harga jual harian produk PBID langsung disesuaikan dengan kurs yang berlaku. Selain itu, perseroan memanfaatkan fasilitas hedging atau lindung nilai secara terukur guna menjaga stabilitas margin dari fluktuasi kurs ekstrem.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Samuel Sekuritas Soroti Pelemahan Rupiah, Ungkap Penyebab Susutnya Cadangan Devisa

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Cadangan devisa (cadev) Indonesia turun menjadi...

BAFI Siapkan Rp244,33 Miliar untuk Lunasi Obligasi yang Jatuh Tempo Juni 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bussan Auto Finance Tbk (BAFI)...

BTN Teken Tiga MoU Strategis untuk Modernisasi Layanan Publik di Tapanuli Utara

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru