spot_img

Perundingan AS-Iran di Swiss Batal, Harga Minyak Dunia Kembali Menguat

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia menguat pada penutupan perdagangan Jumat (19/6/2026) waktu setempat atau Sabtu (20/6/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh pembatalan mendadak perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss. Situasi tersebut menimbulkan keraguan pasar terhadap upaya perdamaian yang berkelanjutan.

Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent naik 0,93 USD atau 1,15%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 81,50 USD per barel di London ICE Futures Exchange. Sebelumnya, Brent sempat ditutup pada posisi 80,57 USD per barel.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat 1,23%. Minyak WTI diperdagangkan pada posisi 77,54 USD per barel di New York Mercantile Exchange. Harga sempat melandai tipis setelah Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata.

Kementerian Luar Negeri Swiss menyatakan perundingan AS-Iran di Bürgenstock tidak akan dilanjutkan sesuai rencana. Gedung Putih menyebut Wakil Presiden AS JD Vance batal berangkat ke Swiss. Pihak AS mengacu pada masalah logistik yang belum terselesaikan dalam negosiasi tersebut.

Vance memberikan keterangan mengenai kondisi di jalur perdagangan energi dunia. Ia menyebut lebih dari 12 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz semalam.

“Orang-orang Iran, untuk malam kedua berturut-turut, tidak menembaki kapal apa pun di Selat Hormuz. Sejauh ini, mereka menghormati bagian dari komitmen mereka,” ujar JD Vance.

Sekretaris Jenderal OPEC Haitham Al Ghais tidak melihat permintaan minyak dunia akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat. Ia menolak prakiraan Badan Energi Internasional (IEA) tentang adanya kelebihan pasokan di masa depan. Al Ghais menekankan pentingnya melihat data nyata.

“[Kami fokus] pada fundamental dan tidak memasukkan banyak jika dan tetapi dalam prakiraan kami, melainkan fokus pada angka aktual,” kata Haitham Al Ghais dalam wawancara dengan CNBC.

Analis PVM Oil Associates Tamas Varga memberikan analisanya terkait pergerakan harga. Ia menilai pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan status force majeure oleh Kuwait meyakinkan investor. Varga menyebut gangguan yang mendorong harga di atas 120 USD telah berakhir.

“Gencatan senjata 60 hari adalah langkah yang disambut baik ke arah yang benar. Namun, meskipun perjanjian tersebut bertahan, aksi jual baru-baru ini mungkin terbukti tidak berkelanjutan dalam jangka pendek,” tutur Varga.

Tiago Lacerda, analis pasar di Axi, memprediksi harga minyak akan bergerak di kisaran 75 USD hingga 82 USD per barel. Saat ini harga Brent telah turun sekitar 36% dari titik tertingginya selama konflik berlangsung. Lacerda menyoroti sikap hati-hati pasar terhadap normalisasi jalur pelayaran.

“Perhatian beralih cepat pada apakah pembukaan kembali secara fisik benar-benar terjadi; jalur pelayaran utama belum melanjutkan transit dan tarif asuransi tetap tinggi, menunjukkan pasar berhati-hati terhadap kecepatan normalisasi,” ujar Lacerda.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas Dunia Merosot Tiga Pekan Beruntun, Ini Pemicu Utamanya

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melemah pada perdagangan Kamis...

The Fed Beri Sinyal Hawkish, Harga Emas Dunia Merosot

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melemah pada perdagangan...

Harga Minyak Stagnan Usai Belasan Juta Barel Lewati Selat Hormuz

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia tidak banyak berubah...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru