STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (12/5/2026) waktu setempat. Investor tampak mengabaikan keraguan baru atas gencatan senjata Amerika Serikat (AS)-Iran yang rapuh. Sentimen tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kondisi perdamaian itu berada dalam situasi kritis.
Mengutip CNBC International, Trump pada Senin waktu setempat meragukan keberlangsungan gencatan senjata AS-Iran. Ia menilai kesepakatan tersebut tidak berjalan efektif. Trump juga menyebut respons Teheran terhadap proposal Washington untuk mengakhiri konflik tidak dapat diterima.
“Saya akan mengatakan gencatan senjata ini berada dalam kondisi kritis yang masif, di mana dokter masuk dan berkata, ‘Tuan, orang yang Anda cintai memiliki peluang hidup sekitar 1%,’” ujar Trump.
Bursa Jepang mencatat kinerja positif. Indeks Nikkei 225 naik 0,52% ke level 62.742,57. Indeks Topix juga menguat 0,83% ke posisi 3.872,90.
Penguatan terjadi di tengah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun yang menyentuh level tertinggi sejak 1997, yakni 2,545%. Risalah rapat Bank of Japan (BOJ) menunjukkan sejumlah anggota dewan mengusulkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Sebaliknya, pasar saham Korea Selatan mengalami koreksi. Indeks Kospi turun 2,29% ke level 7.643,15, setelah sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi baru. Indeks Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil juga melemah 2,32% ke posisi 1.179,29.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,36% ke level 8.670,70. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah tipis 0,16% pada akhir perdagangan sore. Sementara itu, indeks CSI 300 China terkoreksi 0,08% ke level 4.948,05.
Tekanan lebih dalam terjadi di India. Indeks Nifty 50 anjlok 1,27%. Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent berada di level US$107,77 per barel.
Chief Investment Officer GammaRoad Capital Partners, Jordan Rizzuto, menilai kondisi pasar saat ini merupakan “show me market”. Menurut dia, investor cenderung tidak bereaksi terhadap risiko kecuali benar-benar mengganggu fundamental ekonomi maupun korporasi.
Kondisi tersebut tetap bertahan meski pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik dan tekanan inflasi.
“Setelah melewati pandemi, lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga agresif, dan ketakutan terhadap tarif dalam beberapa tahun terakhir, investor telah terbiasa membeli saat pasar melemah dibanding mundur dari pasar,” tulis Rizzuto dalam catatannya.
Sebelumnya, bursa saham AS mencatat penguatan. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite sempat menembus rekor tertinggi baru, didorong penguatan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Penguatan terjadi meski harga minyak terus merangkak naik setelah Trump menolak proposal terbaru dari Iran.
