STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (112/5/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (13/5/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Nasdaq melemah akibat tekanan pada saham teknologi serta lonjakan harga minyak dunia. Investor juga merespons negatif data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan pasar.
Mengutip CNBC International, indeks S&P 500 (SPX) turun 0,16% ke level 7.400,96. Indeks komposit Nasdaq (IXIC) terkoreksi 0,71% menjadi 26.088,20. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik tipis 56,09 poin atau 0,11% ke posisi 49.760,56.
Tekanan terjadi pada sektor semikonduktor setelah reli panjang dalam beberapa waktu terakhir. Saham Micron Technology turun 3,6% setelah sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi. Saham Advanced Micro Devices (AMD) melemah 2%, sedangkan Qualcomm anjlok 11%.
Sentimen pasar turut dipengaruhi kenaikan harga energi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,19% menjadi USD102,18 per barel. Sementara itu, minyak Brent naik 3,42% ke level USD107,77 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran berada dalam kondisi sangat lemah. Trump juga menolak proposal balasan dari Teheran untuk mengakhiri perang. Iran sebelumnya mengajukan syarat berupa reparasi perang dan pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz.
Dari sisi makroekonomi, Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) April naik 0,6%. Dengan kenaikan tersebut, tingkat inflasi tahunan mencapai 3,8%, lebih tinggi dibanding perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Dow Jones sebesar 3,7%.
Inflasi tahunan itu menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023.
Senior Portfolio Manager Globalt Investments, Thomas Martin, menilai tren kenaikan inflasi masih akan berlanjut seiring meningkatnya ketegangan geopolitik.
“Ini tidak seperti longsoran salju, tetapi ini adalah pergerakan naik yang stabil,” ujar Martin kepada CNBC.
Ia menilai inflasi berpotensi terus meningkat selama konflik di Timur Tengah belum mereda dan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan kemajuan.
“Saat harga gas dan harga-harga lainnya lebih tinggi, hal ini akan semakin menjepit banyak orang, sehingga situasinya adalah akan terus ada kesulitan bagi konsumen,” katanya.
