STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (12/5/2026) waktu setempat. Pergerakan pasar tertekan akibat memudarnya harapan penyelesaian cepat konflik Amerika Serikat (AS)-Iran. Selain itu, situasi politik Inggris juga memanas setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menghadapi tekanan internal partainya.
Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 ditutup turun 1,01% ke posisi 606,63. Mayoritas sektor dan bursa utama di kawasan Eropa berada di zona merah.
Indeks CAC 40 Prancis melemah 0,95% ke level 7.979,92. FTSE MIB Italia turun 1,36% ke posisi 48.990,98. DAX Jerman anjlok 1,62% menjadi 23.954,93, sedangkan IBEX 35 Spanyol terkoreksi 1,56% ke level 17.573,60.
Sementara itu, indeks FTSE 100 Inggris turun tipis 0,04% ke posisi 10.265,32.
Pelaku pasar mencermati krisis politik yang berkembang di Inggris. Lebih dari 70 anggota parlemen Partai Buruh dilaporkan mendesak Keir Starmer mundur setelah hasil buruk partai tersebut dalam pemilihan dewan lokal pekan lalu.
Meski mendapat tekanan, Starmer menegaskan tetap bertahan. Dalam rapat kabinet mingguan, ia menyatakan belum ada proses resmi tantangan kepemimpinan di Partai Buruh.
“Saya tidak mengundurkan diri dan justru akan melanjutkan pemerintahan,” ujar Starmer.
Sentimen negatif lainnya datang dari meningkatnya ketidakpastian terkait gencatan senjata AS-Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut peluang perdamaian kembali terancam setelah Teheran mengirimkan respons yang dinilai tidak dapat diterima Washington.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Ruang Oval. Ia menilai upaya mengakhiri konflik masih belum menemukan titik terang. Harga minyak dunia langsung melonjak setelah komentar tersebut.
“Keadaan gencatan senjata yang sudah berlangsung sebulan ini sangat lemah,” kata Trump.
Situasi politik dan geopolitik tersebut turut menekan nilai tukar Pound Sterling yang turun 0,7% terhadap dolar AS. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun juga naik menjadi 5,10%.
Di pasar saham AS, indeks S&P 500 dan Dow Jones turut bergerak melemah.
Dari sisi korporasi, perusahaan bioteknologi asal Jerman, Bayer, melaporkan kenaikan laba operasional sebesar 9% menjadi 4,5 miliar euro atau setara US$5,3 miliar. Saham Bayer pun ditutup melonjak lebih dari 4%.
Namun Bayer masih menghadapi risiko hukum terkait gugatan herbisida Roundup di AS. Perusahaan menantikan keputusan Mahkamah Agung AS pada Juni mendatang. Sebelumnya, Monsanto yang merupakan anak usaha Bayer telah menyepakati penyelesaian gugatan besar pada awal 2026.
Sementara itu, Vodafone mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 8% menjadi 40,5 miliar euro. Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah ekspektasi analis. Saham Vodafone akhirnya merosot 7,7% pada penutupan perdagangan.
