STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pasar modal Indonesia segera bangkit. Kondisi bursa saham diyakini akan melesat signifikan seiring dengan perbaikan nilai tukar rupiah.
Purbaya menilai fundamental ekonomi nasional saat ini berada dalam posisi yang baik. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi titik lemah yang membayangi kinerja bursa.
Pemerintah optimistis penguatan rupiah akan menjadi katalis utama bagi pasar modal. Pergerakan bursa diprediksi bakal menguat secara otomatis mengikuti stabilitas mata uang Garuda.
“Saya pikir nanti kalau nilai tukar membaik, bursa juga akan naik secara otomatis,” ujar Purbaya dalam wawancara di acara Kabar Petang tvOne, Kamis (14/5/2026).
Purbaya menegaskan pemerintah terus melakukan perbaikan pada sisi fundamental ekonomi. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan keuntungan perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa.
Kenaikan laba emiten secara langsung dinilai akan mengerek valuasi perusahaan ke level yang lebih tinggi. Saat ini, sebagian investor masih bersikap hati-hati akibat tekanan pada mata uang rupiah.
“Kalau perusahaan keuntungannya naik valuasinya juga akan naik,” lanjutnya.
Kementerian Keuangan melihat potensi besar bagi bursa untuk mencatatkan pertumbuhan tinggi atau “to the moon”. Momentum tersebut diperkirakan terjadi saat sentimen negatif terhadap rupiah mulai mereda.
Optimisme itu didasari potensi pembalikan arah nilai tukar rupiah dalam waktu dekat. Jika terealisasi, pasar saham domestik diharapkan merespons dengan penguatan yang signifikan.
“Kalau rupiah berbalik arah harusnya ini akan menguat dengan signifikan,” terang Purbaya.
Saat ini, Kementerian Keuangan tengah berupaya menstabilkan rupiah yang telah menyentuh Rp17.500 per dolar AS. Salah satu langkah konkretnya ialah melakukan intervensi di pasar surat utang (bond market). Pemerintah sudah masuk ke pasar mulai pekan ini.
“Kami sudah masuk kemarin sedikit, tapi nanti ke depan akan masuk dalam jumlah lebih besar lagi,” ujarnya.
Purbaya mengungkapkan pemerintah akan menggelontorkan dana sekitar Rp2 triliun secara rutin setiap hari. Langkah ini bertujuan menurunkan imbal hasil atau bond yield. Penurunan yield diharapkan dapat menahan arus keluar investor asing dan mengurangi risiko capital loss.
“Mungkin Rp2 triliun, Rp2 triliun, Rp2 triliun setiap hari supaya bond yield-nya turun,” kata Purbaya menjelaskan strateginya.
Penurunan yield tersebut juga diprediksi mampu menarik minat investor asing baru. Investor akan melihat adanya peluang capital gain di pasar Indonesia. Masuknya aliran modal asing diyakini ikut memperkuat nilai tukar rupiah.
Selain intervensi pasar, pemerintah juga menyiapkan diversifikasi pendanaan melalui penerbitan panda bond. Instrumen ini menggunakan mata uang yuan atau renminbi untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Penggunaan panda bond dinilai dapat menekan permintaan dolar di pasar domestik sehingga mengurangi tekanan terhadap rupiah. Purbaya menyebut lembaga keuangan internasional seperti ICBC dan Bank of China menunjukkan minat besar terhadap rencana tersebut.
“Yield-nya rendah, waktu itu sekitar 2,3%, hampir separuh dari bunga surat utang dalam dolar,” tutur Purbaya.
Purbaya juga menjanjikan instrumen tambahan yang akan diumumkan pekan depan. Dampak kebijakan tersebut diklaim akan langsung terlihat terhadap penguatan rupiah. Ia optimistis perbaikan ekonomi berjalan sesuai rencana pemerintah.
Menurut Purbaya, stabilitas nilai tukar menjadi kunci utama untuk membuat pasar saham kembali bergairah. Ia yakin investor akan mulai merealisasikan rencana investasinya saat melihat fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat.
