STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia terperosok ke level terendah dalam dua bulan terakhir pada perdagangan Rabu (27/5/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (28/5/2026) WIB. Logam mulia ini tertekan ekspektasi kebijakan moneter ketat akibat kenaikan inflasi yang dipicu perang di Iran.
Mengutip CNBC International, harga emas spot anjlok 1,3% ke posisi USD 4.450,09 per ons troi. Harga ini menyentuh level terendah sejak 30 Maret lalu. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni merosot 1,2% menjadi USD 4.448,90 per ons troi.
Konflik bersenjata yang melibatkan AS-Israel dan Iran sejak akhir Februari terus menekan harga emas. Penutupan Selat Hormuz menyebabkan kenaikan harga minyak mentah Brent hingga 31%. Kondisi tersebut memicu lonjakan inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral global.
Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Ahli Strategi Logam Senior di Zaner Metals, memberikan analisanya. Ia menyebut ketegangan di Timur Tengah menjadi faktor pengaruh terbesar saat ini.
“Pengaruh terbesar tetap Timur Tengah. Sempat ada optimisme yang tersisa, namun seiring berlarutnya hal ini, optimisme tersebut memudar,” ujar Peter Grant.
Sentimen pasar sempat sedikit membaik setelah laporan televisi pemerintah Iran muncul. Laporan itu menyebutkan adanya draf kerangka kerja awal untuk nota kesepahaman dengan AS. Teheran berkomitmen memulihkan pelayaran komersial di Selat Hormuz dalam satu bulan.
Sebagai imbalannya, AS diminta menarik pasukan militer dan mencabut blokade laut. Harga emas sempat mengurangi sebagian kerugiannya sesaat setelah berita ini dirilis. Meski demikian, pasar masih melihat risiko inflasi energi tetap membayangi.
Inflasi tinggi diperkirakan mendorong Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir tahun. Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil. Investasi ini cenderung sulit bersaing dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Neel Kashkari, Presiden Fed Minneapolis, menegaskan fokus utama bank sentral saat ini. Ia menilai risiko inflasi mulai menunjukkan tekanan yang nyata.
“Bank sentral AS harus fokus pada penanganan risiko inflasi yang tampaknya mulai meningkat,” kata Neel Kashkari.
Kashkari menambahkan masih terlalu dini memprediksi kapan kebijakan suku bunga akan berubah. Pelaku pasar kini menantikan rilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS bulan April pada hari Kamis. Data ini akan menjadi acuan penting bagi arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

