STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia jatuh ke level terendah dalam lebih dari tujuh bulan pada perdagangan Rabu (24/6/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (25/6/2026) WIB. Logam mulia ini sempat merosot di bawah level kunci 4.000 USD per ons troi.
Mengutip CNBC, harga emas spot turun 2,9% menjadi 3.981,21 USD per ons troi. Ini merupakan level terendah sejak November 2025. Kontrak emas berjangka AS juga turun 3,4% dan berakhir di posisi 4.008,80 USD per ons troi.
Penguatan nilai tukar dolar AS menjadi penekan utama harga emas. Kondisi ini membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.
Tai Wong, seorang pedagang logam independen, memberikan analisanya. Ia menyebut pasar mulai memperhitungkan kenaikan suku bunga pada September mendatang. Kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang cenderung ketat atau hawkish menjadi pemicunya.
“Pasar menetapkan harga kenaikan suku bunga segera setelah September karena Fed yang hawkish, dolar yang melonjak di level tertinggi 13 bulan dikombinasikan dengan ekspektasi inflasi yang lebih rendah memberikan tekanan berat pada logam mulia,” ujar Tai Wong.
Tai menilai penurunan harga emas secara drastis tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Hal ini karena bank sentral di berbagai negara masih terus melakukan pembelian emas.
“Untuk emas, ada dukungan tepat di bawah 3.900 USD dan pembelian bank sentral berlanjut, jadi keruntuhan tidak mungkin terjadi, tetapi perkirakan periode konsolidasi yang berpotensi lama karena perdagangan emas sekarang tidak lagi disukai,” tambah Tai.
Emas menjadi kurang menarik bagi investor saat suku bunga naik. Logam mulia ini merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil atau bunga. Sejak mencapai rekor tertinggi 5.594,82 USD pada akhir Januari lalu, harga emas spot telah anjlok lebih dari 1.600 USD.
Analis dari ING ikut memangkas proyeksi harga emas mereka. Mereka kini memperkirakan harga rata-rata emas sebesar 4.300 USD per ons troi pada kuartal ketiga 2026. Angka tersebut turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 4.850 USD. Untuk kuartal keempat, perkiraan diturunkan menjadi 4.600 USD dari sebelumnya 5.000 USD.
Investor saat ini menanti rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS pada Kamis. Data ini merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed. Lukman Otunuga, analis riset senior di FXTM, menilai data tersebut akan memberikan sinyal kebijakan moneter ke depan.
“Sinyal yang lebih hawkish dari pejabat Fed atau data ekonomi yang mendukung argumen untuk suku bunga yang lebih tinggi dapat diterjemahkan menjadi risiko penurunan lebih lanjut bagi emas,” kata Lukman Otunuga.

