spot_img

Tensi AS-Iran Memanas Lagi, Kontrak Berjangka Saham Wall Street Tergelincir

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat (AS) tergelincir pada Rabu (8/7/2026) malam waktu setempat atau Kamis pagi (9/7/2026). Tekanan ini muncul setelah bursa saham ditutup melemah akibat ketegangan baru AS-Iran dan lonjakan harga minyak.

Mengutip CNBC, kontrak berjangka yang terikat dengan Dow Jones Industrial Average turun 56 poin atau 0,1%. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,1%. Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq 100 juga kehilangan 0,2%.

Penurunan ini terjadi setelah AS meluncurkan serangan baru ke Iran. Komando Pusat AS mengumumkan serangan itu merupakan balasan atas tindakan Teheran terhadap pelayaran komersial. Serangan tersebut berlokasi di sekitar Selat Hormuz.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) langsung merespons dengan kenaikan sekitar 1%. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak lagi tertarik untuk menegosiasikan kesepakatan dengan Iran.

Trump menyebut gencatan senjata antara AS dan Teheran sudah berakhir. Pernyataan ini muncul setelah adanya gelombang serangan baru di Timur Tengah. Para pelaku pasar khawatir pasokan minyak dunia akan terganggu.

Mason Mendez, analis aset riil global di Wells Fargo Investment Institute, memberikan pandangannya. Ia menilai situasi ini menyulitkan pemulihan ekspor minyak.

“Asumsi apa pun mengenai kembalinya ekspor Teluk Persia yang normal tentu saja tertantang,” ujar Mason Mendez.

Mendez menambahkan eskalasi lebih lanjut kemungkinan akan memperkuat premi risiko geopolitik pada harga minyak. Hal ini dipicu oleh rendahnya cadangan dan inventaris global saat ini.

Pada perdagangan reguler sebelumnya, Dow Jones merosot 576,76 poin atau 1,1%. S&P 500 juga turun 0,28%. Kedua indeks tersebut terbebani oleh lonjakan harga minyak.

Berbeda dengan lainnya, Nasdaq Composite justru naik 0,2%. Kenaikan ini dibantu oleh penguatan saham Nvidia dan saham produsen cip lainnya. Namun, secara umum investor tetap khawatir akan kenaikan biaya energi.

Biaya energi yang naik bisa memicu kembali inflasi. Kondisi ini dapat memaksa bank sentral AS atau The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Risalah pertemuan Fed bulan Juni menunjukkan para pejabat masih ragu untuk memangkas suku bunga.

Para pejabat Fed ingin melihat bukti yang lebih jelas inflasi bergerak turun menuju target. Ketidakpastian ini membuat pasar saham menjadi sangat sensitif.

Meski ada risiko geopolitik, Mendez tetap optimistis pada target akhir tahun S&P 500. Ia melihat momentum laba ekuitas dan kekuatan teknologi kecerdasan buatan (AI) masih menjadi penggerak utama.

“Risiko geopolitik baru ini dapat memicu sentimen penghindaran risiko dalam jangka pendek, namun tren momentum pendapatan ekuitas yang kuat dan kekuatan AI yang sedang berlangsung kemungkinan akan terus mendorong Indeks S&P 500 menuju kisaran target akhir tahun kami di 7.800 hingga 8.000,” lanjut Mendez.

Pada perdagangan hari Kamis, investor akan menunggu laporan klaim pengangguran mingguan. Selain itu, ada data penjualan rumah serta laporan keuangan dari PepsiCo. Pergerakan harga minyak kemungkinan besar tetap menjadi fokus utama pasar

- Advertisement -

Artikel Terkait

Kesepakatan AS-Iran Berakhir, Harga Emas Dunia Tergelincir

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melemah pada penutupan...

Trump Ancam Bom dan Blokade Iran, Harga Minyak Dunia Meroket Lebih dari 4%

STOCKWATCH.ID (ANKARA) – Harga minyak dunia melonjak tajam lebih...

Futures Wall Street Lesu, Investor Cermati Konflik Timur Tengah dan Risalah The Fed

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) bursa...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru